Si kecil merengek minta camilan sebelum makan malam, dan Mams pun mengiyakan agar suasana rumah tetap tenang. Malam harinya, dia menolak tidur tepat waktu, dan Mams membiarkannya karena tak tega melihatnya menangis. Sekilas, ini mungkin terlihat sebagai bentuk cinta dan pengertian terhadap kebutuhan anak. Tapi, apakah semua keputusan itu mendukung tumbuh kembangnya dalam jangka panjang?

Banyak orang tua tidak sadar sedang menjalani pola asuh permisif. Pola ini ditandai dengan kasih sayang yang tinggi, tapi minim aturan dan disiplin. Anak memang merasa dicintai dan bebas, tapi bisa tumbuh tanpa arah dan struktur. Karena itu, penting bagi Mams untuk menyeimbangkan kebebasan dengan batasan yang sehat.

Pola Asuh Permisif Menurut Psikologi Modern, Apakah Masih Relevan?

Pola asuh permisif adalah gaya pengasuhan di mana orang tua memberi kebebasan penuh kepada anak dengan sedikit aturan atau tuntutan. Orang tua permisif cenderung perhatian, penyayang, dan fleksibel, namun jarang menerapkan konsekuensi atau aturan yang konsisten. Gaya pengasuhan ini pertama kali dikenalkan oleh Diana Baumrind pada tahun 1960-an. Kini, pola ini berkembang mengikuti konteks zaman digital dan tekanan sosial. American Psychological Association (APA) menyoroti bahwa pola ini muncul juga karena orang tua cenderung menghindari konflik demi kenyamanan sesaat.

Memberi ruang anak untuk berekspresi tentu penting dalam parenting modern. Tapi jika semua keputusan diserahkan tanpa bimbingan, ini bisa jadi pengasuhan yang pasif. Studi Journal of Child and Family Studies menyebutkan bahwa anak dari pola permisif lebih rentan impulsif dan cemas. Ini berbeda dari pola demokratis yang tetap menekankan batasan disertai komunikasi terbuka.

Pola permisif juga muncul dalam bentuk “pengabaian digital” yang makin sering terjadi. Misalnya, anak dibiarkan bermain gadget tanpa batas karena orang tua kelelahan atau takut anak tantrum. Sekilas tampak praktis, tapi dalam jangka panjang bisa mengikis kualitas pengasuhan. Membiarkan tanpa arahan bukanlah bentuk dukungan yang sehat.

Pola demokratis juga mengandung kehangatan, tapi tetap punya batasan yang jelas. Justru struktur inilah yang dibutuhkan anak untuk belajar tentang tanggung jawab. Tanpa batasan, anak kesulitan membedakan mana perilaku yang bisa diterima. Akibatnya, dia tumbuh tanpa arah sosial yang kuat.

Risiko Jangka Panjang dari Pola Asuh Permisif yang Tak Disadari

Anak yang dibesarkan dengan pola permisif rentan mengalami gangguan regulasi emosi. Mereka tidak terbiasa menghadapi konsekuensi atau batasan yang konsisten. Akibatnya, anak bisa tumbuh impulsif, kurang percaya diri, dan bergantung pada orang lain. Studi Berge et al. bahkan menyebut risiko penyalahgunaan obat terlarang lebih tinggi pada remaja yang diasuh permisif.

Minimnya struktur juga bisa membuat anak merasa tidak aman. Mereka jadi bingung menentukan mana yang boleh dan tidak, karena tidak ada batas yang jelas. Dunia anak butuh rutinitas agar dia merasa tenang dan terarah. Tanpa itu, anak cenderung merasa cemas dan kewalahan.

Pola permisif juga berpengaruh pada perkembangan fungsi eksekutif anak. Kemampuan seperti kontrol diri, membuat keputusan, dan menunda keinginan bisa jadi tidak berkembang optimal. Hal ini berpengaruh ke prestasi belajar, kemampuan bersosialisasi, hingga penggunaan gawai. Anak lebih mudah kecanduan karena tidak punya kontrol diri yang terbentuk sejak dini.

Tanpa pendampingan yang tegas, anak jadi sulit bertanggung jawab atas pilihannya. Mereka juga lebih mudah menyalahkan lingkungan saat menghadapi masalah. Pola ini memang tampak lembut, tapi justru bisa menyulitkan anak saat dewasa nanti. Maka, penting bagi Mams untuk hadir bukan hanya dengan cinta, tapi juga arahan yang jelas.

Kapan Pola Asuh Permisif Bisa Menjadi Hal Positif?

Pola permisif tetap bisa berdampak baik jika diterapkan dengan kesadaran penuh. Saat dikombinasikan dengan komunikasi hangat dan keterlibatan orang tua, anak akan merasa dihargai dan aman. Dia pun jadi lebih terbuka, percaya diri, dan mampu mengekspresikan diri tanpa rasa takut. Studi Journal of Child and Family Studies menyebutkan bahwa kehangatan emosional orang tua memperkuat regulasi emosi anak.

Empati, kasih sayang, dan kebebasan berpendapat adalah nilai penting dalam tumbuh kembang anak. Namun semua itu tetap perlu batas agar anak tidak bingung antara kebebasan dan kelonggaran. Anak perlu tahu bahwa aturan bukan bentuk kekangan, tapi perlindungan. Inilah dasar dari pola asuh yang sehat dan mendukung pertumbuhan optimal.

Kadang, pola permisif muncul karena orang tua ingin menebus masa kecil mereka yang keras. Studi Journal of Family Psychology menunjukkan bahwa trauma masa lalu bisa mendorong orang tua bersikap terlalu longgar. Tanpa disadari, ini menciptakan ketimpangan baru dalam pengasuhan. Maka, penting untuk reflektif dan sadar kapan perlu tegas, kapan cukup memberi ruang.

Pola permisif bisa diterapkan secara selektif dalam situasi tertentu. Misalnya saat bermain bebas, bereksplorasi kreativitas, atau membangun kelekatan emosional. Namun di luar itu, anak tetap butuh panduan yang konsisten. Gabungan antara kelembutan dan arahan adalah kunci keberhasilan pengasuhan.

Strategi Menyeimbangkan Kebebasan Anak dengan Aturan Sehat

Mams bisa menerapkan pendekatan responsive parenting with structure sebagai solusi. Ini artinya, orang tua tetap mendengarkan dan memahami perasaan anak, tapi juga menetapkan batas yang jelas. Contohnya, saat anak menolak mandi, tawarkan pilihan seperti “mau sekarang atau 10 menit lagi?” Anak merasa diberi pilihan, tapi dalam bingkai yang tetap terarah.

Penelitian dari Harvard dan AAP menunjukkan hasil positif dari pola ini. Anak jadi lebih disiplin, mandiri, dan punya kemampuan emosi yang stabil. Aturan bisa dimulai dari rutinitas harian seperti waktu tidur, belajar, hingga durasi main gadget. Yang terpenting, orang tua konsisten dan memberi penjelasan dengan bahasa yang anak pahami.

Mams juga bisa gunakan teknik validation + limit setting. Misalnya, “Mama tahu kamu sedih belum bisa main, tapi sekarang waktunya makan ya.” Kalimat ini mengakui perasaan anak, tapi tetap mengarahkan ke aturan. Pendekatan ini membuat anak merasa dipahami tapi tetap belajar tentang tanggung jawab.

Untuk membantu evaluasi diri, Mams bisa refleksikan pertanyaan seperti “Apakah saya terlalu sering mengalah demi menghindari konflik?” atau “Apakah saya sudah menetapkan konsekuensi yang jelas saat aturan dilanggar?” Dengan menyadari hal-hal ini, Mams bisa menjalani pola asuh yang lebih seimbang dan berdampak jangka panjang.

A Word From Navila

Pola asuh permisif tidak selalu salah, selama dilakukan dengan sadar dan penuh kasih. Kasih sayang, empati, dan kebebasan tetap dibutuhkan anak dalam tumbuh kembangnya. Namun, jika diberikan tanpa batasan, anak bisa tumbuh bingung, cemas, dan tidak siap menghadapi dunia nyata. Di sinilah peran Mams sebagai pemandu sangat penting.

Kehadiran orang tua yang responsif dan terstruktur adalah fondasi perkembangan anak yang kuat. Anak belajar memahami batas, mengelola emosi, dan bertanggung jawab terhadap pilihannya. Maka, bukan soal apakah pola permisif itu baik atau buruk. Tapi bagaimana Mams bisa menyelaraskan cinta dan aturan secara tepat.

Jangan berhenti di sini, Mams. Untuk membesarkan anak dengan pendekatan terbaik, penting juga memahami pola asuh lainnya. Yuk, pelajari jenis-jenis pola asuh yang tak kalah penting di sini: Jenis-jenis Pola Asuh dan Dampaknya pada Anak.


References

  • Study.com. Diana Baumrind’s Parenting Styles | Overview, Theory & Types. Retrieved from https://study.com/academy/lesson/diana-baumring-parenting-styles-theory.html
  • APA. Parenting Styles. Retrieved from https://www.apa.org/act/resources/fact-sheets/parenting-styles
  • McWhirter, A. C., McIntyre, L. L., Kosty, D. B., & Stormshak, E. (2023). Parenting styles, family characteristics, and teacher-reported behavioral outcomes in kindergarten. Journal of Child and Family Studies, 32(3), 678-690. https://link.springer.com/article/10.1007/s10826-023-02551-x
  • Yusof, S. N. M., Bakar, A. S. A., & Sawai, R. P. (2019). The relationship between parenting style and the risk of drug abuse among youth. ‘Abqari Journal, 21(1), 25-35. http://abqarijournal.usim.edu.my/index.php/abqari/article/view/224
  • Parenting Science. Permissive parenting: An evidence-based guide. Retrieved from https://parentingscience.com/permissive-parenting/
  • Pinquart, M., & Gerke, D. C. (2019). Associations of parenting styles with self-esteem in children and adolescents: A meta-analysis. Journal of child and family studies, 28(8), 2017-2035. https://link.springer.com/article/10.1007/S10826-019-01417-5
  • Franz, M. R., Kumar, S. A., Brock, R. L., Calvi, J. L., & DiLillo, D. (2022). Parenting behaviors of mothers with posttraumatic stress: The roles of cortisol reactivity and negative emotion. Journal of Family Psychology, 36(1), 130. https://psycnet.apa.org/record/2021-43902-001
  • APA. Promoting Healthy Development. Retrieved from https://publications.aap.org/pediatriccare/book/342/chapter-abstract/5741811/Promoting-Healthy-Development?redirectedFrom=fulltext
  • Burkhardt, S. C., Röösli, P., & Müller, X. (2024). The Tuning in to Kids parenting program delivered online improves emotion socialization and child behavior in a first randomized controlled trial. Scientific reports, 14(1), 4979. https://www.nature.com/articles/s41598-024-55689-z