Hampir semua orang tua pernah merasakan tantangan saat menghadapi anak yang keras kepala. Mams mungkin sudah mencoba menasihati, membujuk, atau menawarkan berbagai solusi, namun si kecil tetap bersikeras dengan pendiriannya. Meski bisa membuat frustrasi, sifat ini bukan selalu tanda perilaku buruk. 

Banyak anak keras kepala justru memiliki kemauan kuat, rasa ingin tahu tinggi, dan kemampuan mengambil keputusan sejak dini, potensi besar yang bisa berkembang jika diarahkan dengan tepat.

Di sinilah pendekatan positif berperan. Dengan memadukan empati, batasan yang jelas, dan teladan yang konsisten, Mams dapat mengubah benturan menjadi kesempatan membangun kerja sama. Artikel ini akan membagikan lima strategi sederhana namun efektif sebagai cara menghadapi anak yang keras kepala, yang bukan hanya meredakan konflik, tetapi juga mempererat hubungan hangat antara Mams dan si kecil.

1. Pahami Akar Sifat Keras Kepala pada Anak

Sifat keras kepala sering kali muncul bukan karena anak nakal, melainkan karena temperamen bawaan dan fase perkembangan yang sedang dijalani. Penelitian Thomas & Chess menunjukkan bahwa sebagian anak memiliki temperamen lebih reaktif dan sulit beradaptasi sejak lahir. Pada usia toddler (1,5–3 tahun), anak sedang berada pada tahap autonomy vs. shame & doubt, yaitu fase di mana anak ingin mencoba banyak hal sendiri. Penolakan terhadap arahan sering kali bukan bentuk perlawanan, melainkan cara menguji kemampuan dan batas diri.

Banyak anak yang disebut “keras kepala” sebenarnya memiliki self-assertion tinggi, yaitu kemampuan menyatakan kemauan dengan tegas. Jika diarahkan dengan tepat, sifat ini bisa menjadi modal percaya diri dan daya juang di masa depan. Namun, anak dengan karakter ini cenderung mudah frustrasi saat keinginannya tidak terpenuhi. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membantu mereka mengembangkan regulasi emosi sejak dini.

Tidak semua penolakan memiliki sebab yang sama. Jika anak menolak karena ingin mandiri, beri kesempatan memilih dalam batas aman. Jika karena takut atau kewalahan, tenangkan terlebih dahulu. Sedangkan jika ingin mencari perhatian, luangkan waktu untuk mendengarkan tanpa langsung mengoreksi. Pendekatan yang tepat akan mengurangi konflik sekaligus membangun rasa saling percaya, bagian penting dalam cara menghadapi anak yang keras kepala secara bijak.

2. Dengarkan Dulu Sebelum Menanggapi

Mendengarkan aktif adalah kunci dalam cara menghadapi anak yang keras kepala. Sering kali anak menolak bukan karena tidak mau bekerja sama, tetapi karena merasa pendapatnya diabaikan. Saat Mams memberi ruang untuk mereka bicara tanpa dipotong, anak akan merasa aman dan dihargai. Menurut Harvard Center on the Developing Child, interaksi responsif seperti ini membantu membentuk koneksi otak yang mendukung regulasi emosi dan kemampuan kerja sama.

Mulailah dengan turun ke level mata anak, dengarkan dengan penuh perhatian, lalu ulangi inti ucapannya dan beri label pada emosinya, misalnya, “Kamu kesal karena harus berhenti main, ya?” Cara ini membuat anak merasa dipahami dan sekaligus mengenal kosakata emosi. Setelah itu, Mams bisa menetapkan batas atau memberikan pilihan yang realistis.

Jika dilakukan konsisten, mendengarkan aktif tidak hanya mengurangi drama sehari-hari, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya anak pada orang tua. Komunikasi yang sehat ini menjadi fondasi hubungan yang kuat, bahkan hingga anak beranjak remaja nanti.

3. Gunakan Pilihan, Bukan Perintah

Anak dengan sifat keras kepala cenderung ingin merasa memiliki kendali. Memberi pilihan terbatas adalah cara efektif untuk memenuhi kebutuhan ini tanpa menghilangkan arahan orang tua. Menurut teori Self-Determination, anak akan lebih kooperatif jika kebutuhan akan otonomi terpenuhi.

Pilihannya harus sederhana dan jelas, misalnya, “Mau mandi sekarang atau lima menit lagi?” atau “Mau pakai kaos biru atau hijau?” Semua opsi tetap mengarah pada tujuan yang Mams tetapkan, namun anak merasa dilibatkan. Gunakan nada suara netral, hindari kalimat memerintah, dan berikan waktu singkat bagi anak untuk memutuskan.

Navila All Products

Setelah anak memilih, jalankan kesepakatan tersebut tanpa perdebatan. Jika mereka menepati pilihan, berikan apresiasi. Konsistensi seperti ini mengajarkan bahwa setiap keputusan membawa konsekuensi, sekaligus membangun rasa tanggung jawab.

4. Tetap Tenang dan Konsisten

Ketika menghadapi perlawanan anak, emosi Mams mungkin ikut terpancing. Namun, mempertahankan nada bicara tenang akan membantu menurunkan ketegangan. Konsistensi juga penting, turan yang sering berubah hanya akan membuat anak bingung dan memperbesar kemungkinan mereka menantang batas.

Tentukan aturan yang jelas, komunikasikan secara sederhana, dan terapkan secara berulang. Misalnya, jika aturan tidur pukul 8 malam sudah disepakati, jalankan hal tersebut setiap hari, bukan hanya saat Mams sedang punya waktu. Konsistensi seperti ini memberi rasa aman pada anak karena mereka tahu apa yang diharapkan dan batas yang berlaku.

5. Berikan Pujian Saat Anak Mau Kerja Sama

Pujian yang tepat dapat memperkuat perilaku positif anak. Saat anak mendapat apresiasi, otak mereka melepaskan dopamin yang membuat mereka ingin mengulang perilaku tersebut. Namun, hindari pujian yang terlalu umum seperti “Bagus!” karena tidak memberi informasi jelas. Sebaliknya, berikan pujian spesifik, misalnya, “Mama senang kamu membereskan mainan tanpa disuruh.”

Fokuslah pada usaha, bukan hanya hasil. Memuji usaha (“Kamu rajin mencoba puzzle ini”) mendorong anak berani mencoba hal baru meski ada kemungkinan gagal. Tambahkan pelukan atau senyuman untuk memperkuat dampak emosionalnya. Dengan cara ini, hubungan orang tua dan anak menjadi lebih hangat, sementara sikap menolak perlahan berkurang.

A Word From Navila

Cara menghadapi anak yang keras kepala bukan soal memaksa mereka mengikuti kemauan kita, tetapi mengarahkan sifat tersebut menjadi kekuatan. Dengan mendengarkan, memberi pilihan yang terarah, menjaga ketenangan dan konsistensi, serta memberikan pujian yang tepat, Mams membantu si kecil tumbuh menjadi pribadi percaya diri, mandiri, dan mampu bekerja sama.

Setiap anak unik, dan cara menghadapi anak yang keras kepala mungkin berbeda tergantung pada usia, karakter, dan dinamika keluarga. Untuk memperluas wawasan, Mams bisa membaca: Jenis-Jenis Pola Asuh Orang Tua dan Dampaknya bagi Anak agar menemukan pendekatan yang paling sesuai untuk keluarga.


References

  • Harvard University. A Guide to Serve & Return. Retrieved from https://developingchild.harvard.edu/resource-guides/guide-serve-and-return/
  • AAP. Healthy Communication With Your Child. Retrieved from https://publications.aap.org/patiented/article-abstract/doi/10.1542/peo_document052/79999/Healthy-Communication-With-Your-Child
  • Age of the Sage. Thomas, Chess & Birch ~ human personality traits. Retrieved from https://www.age-of-the-sage.org/psychology/chess_thomas_birch.html
  • Orenstein, G. A., & Lewis, L. (2022). Erikson’s stages of psychosocial development. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing.
  • Hand in Hand. Why Traditional Discipline Methods Won’t Work With A Strong-Willed Child, And What You Can Do Instead. Retrieved from https://www.handinhandparenting.org/2022/02/strong-willed-children/
  • Joussemet, M., Landry, R., & Koestner, R. (2008). A self-determination theory perspective on parenting. Canadian Psychology/Psychologie canadienne, 49(3), 194.
  • Healthy Children. Involving Your Child in the Decision-Making Process: AAP Report Explained. Retrieved from https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/developmental-disabilities/Pages/Involving-Your-Child-in-the-Decision-Making-Process.aspx
  • AAP. Discipline and Your Child. Retrieved from https://publications.aap.org/patiented/article-abstract/doi/10.1542/peo_document031/79909/Discipline-and-Your-Child
  • Leijten, P., Thomaes, S., de Castro, B. O., Dishion, T. J., & Matthys, W. (2016). What good is labeling what’s good? A field experimental investigation of parental labeled praise and child compliance. Behaviour Research and Therapy, 87, 134-141.