Setiap perubahan kecil pada tubuh sering kali membuat Mams bertanya-tanya, apalagi jika yang terjadi terasa tidak biasa. Salah satunya adalah ketika tiba-tiba muncul cairan menyerupai ASI dari payudara, padahal Mams tidak sedang hamil maupun menyusui. Kondisi ini tentu menimbulkan rasa khawatir, apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Dalam dunia medis, keadaan ini dikenal sebagai galaktorea, yaitu keluarnya cairan mirip ASI di luar masa menyusui. Galaktorea adalah kondisi yang bukan termasuk penyakit, melainkan gejala dari masalah kesehatan tertentu. Ada kalanya hal ini tidak berbahaya, namun bisa juga menjadi tanda adanya gangguan hormon atau masalah medis lain. Yuk, kita bahas lebih dalam agar Mams lebih tenang dan memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Galaktorea Adalah Gejala, Bukan Penyakit

Galaktorea adalah keluarnya cairan menyerupai ASI dari payudara meskipun Mams tidak sedang hamil atau menyusui. Kondisi ini dapat muncul spontan atau akibat rangsangan ringan pada puting. Menariknya, galaktorea tidak hanya dialami wanita, tetapi juga bisa terjadi pada pria. Dalam istilah medis, kondisi ini juga disebut lactorrhea.

Berbeda dengan laktasi normal yang terjadi setelah melahirkan karena adanya kerja hormon estrogen, progesteron, dan prolaktin, pada galaktorea cairan keluar di luar siklus alami tersebut. Itu sebabnya, dokter mengategorikannya sebagai gejala klinis yang perlu dicari penyebabnya.

Salah satu pemicu utama adalah peningkatan hormon prolaktin di luar masa menyusui, atau disebut hiperprolaktinemia. Kondisi ini bisa dipicu oleh tumor jinak kelenjar pituitari (prolaktinoma), gangguan tiroid, penyakit ginjal kronis, hingga efek samping obat. Bahkan, pada sebagian kasus, galaktorea bisa terjadi tanpa sebab jelas (idiopatik) karena sensitivitas payudara terhadap prolaktin yang lebih tinggi dari biasanya.

Apa Penyebab Keluar ASI di Luar Masa Menyusui?

Galaktorea paling sering berkaitan dengan faktor hormonal. Prolaktinoma adalah salah satu penyebab utama, di mana tumor jinak di kelenjar pituitari memicu produksi prolaktin berlebih. Selain itu, hipotiroidisme juga berperan karena peningkatan hormon TRH dapat merangsang pelepasan prolaktin. Pada penyakit ginjal kronis, tubuh kesulitan membuang prolaktin sehingga kadarnya menumpuk dalam darah.

Selain masalah hormon, ada pemicu lain yang tak kalah penting. Obat-obatan tertentu seperti antipsikotik, antidepresan, atau metoklopramida diketahui bisa meningkatkan prolaktin. Bahkan, stimulasi berlebihan pada payudara akibat pakaian ketat atau pemeriksaan medis juga bisa menjadi pemicu. Beberapa herbal seperti fenugreek atau adas yang biasanya dikonsumsi untuk melancarkan ASI pun dapat memengaruhi kadar prolaktin pada wanita yang tidak menyusui.

Navila All Products

Meski sebagian besar penyebabnya tergolong jinak, Mams tetap perlu waspada. Jika cairan disertai sakit kepala, gangguan penglihatan, atau siklus haid yang tidak teratur, ini bisa menjadi tanda masalah serius pada kelenjar pituitari. Pemeriksaan medis sangat penting agar penyebabnya jelas dan dapat segera ditangani.

Apakah Galaktorea Bisa Mempengaruhi Kesuburan?

Banyak Mams yang bertanya-tanya, apakah keluarnya cairan ini akan berdampak pada peluang hamil? Jawabannya, bisa iya, bisa juga tidak, tergantung penyebabnya.

Hiperprolaktinemia yang menjadi penyebab utama galaktorea dapat mengganggu proses ovulasi. Kadar prolaktin yang terlalu tinggi akan menekan pelepasan hormon GnRH, sehingga produksi LH dan FSH menurun. Kondisi ini membuat siklus menstruasi terganggu, bahkan bisa berhenti sama sekali. Studi Archives of Mediacal Journal menunjukkan hiperprolaktinemia berkontribusi pada sekitar 20% kasus infertilitas wanita di seluruh dunia.

Namun, kabar baiknya, kondisi ini bukan akhir dari segalanya. Dengan pengobatan yang tepat, misalnya penggunaan obat agonis dopamin seperti bromokriptin atau kabergolin, kadar prolaktin bisa kembali normal. Hal ini membuat siklus haid pulih dan peluang hamil tetap terbuka. Artinya, galaktorea memang bisa memengaruhi kesuburan, tetapi bukan berarti Mams kehilangan kesempatan untuk menjadi ibu.

Cara Mengobati Galaktorea Secara Medis

Langkah pertama dalam menangani galaktorea adalah memastikan penyebabnya. Dokter biasanya melakukan pemeriksaan riwayat medis, meninjau penggunaan obat, hingga tes laboratorium untuk memeriksa kadar prolaktin, fungsi tiroid, dan ginjal. Jika ditemukan kadar prolaktin tinggi tanpa penyebab jelas, MRI otak akan dilakukan untuk memeriksa kemungkinan adanya tumor pituitari.

Jika penyebabnya adalah prolaktinoma, terapi utama berupa obat agonis dopamin. Cabergoline biasanya menjadi pilihan pertama karena lebih efektif dan efek sampingnya ringan, sementara bromokriptin sering diberikan pada pasien yang ingin segera hamil. Bila penyebabnya hipotiroidisme, pemberian hormon tiroid dapat membantu memperbaiki kondisi.

Dalam kasus galaktorea idiopatik yang ringan, dokter bisa menganjurkan observasi tanpa pengobatan khusus. Namun, bila keluhan cukup mengganggu, terapi dosis rendah dapat diberikan. Mams juga disarankan menghindari stimulasi payudara berlebihan agar kondisi tidak semakin parah.

A Word From Navila

Mams, keluar cairan mirip ASI di luar masa menyusui memang bisa membuat cemas. Namun penting diingat bahwa galaktorea adalah gejala, bukan penyakit, sehingga penanganannya disesuaikan dengan penyebab utamanya. Dengan pemeriksaan medis yang tepat, sebagian besar kasus bisa dikendalikan, bahkan kesuburan pun dapat kembali normal.

Navila Stretch Mark Cream Terbaik

Selain penanganan medis, Mams juga bisa menjaga kesehatan payudara dari sisi perawatan kulit. Navila Breast Serum hadir dengan formula alami yang aman untuk ibu menyusui, membantu menjaga kelembapan, elastisitas, serta membuat kulit payudara tetap sehat dan kencang. Dengan begitu, perawatan medis dan perawatan kulit bisa saling melengkapi untuk mendukung kenyamanan Mams setiap hari.


References

  • Kaiser, U. B. (2012). Hyperprolactinemia and infertility: New insights. Journal of Clinical Investigation, 122(10), 3467–3468. https://doi.org/10.1172/JCI64455
  • Nahid Eftekhari. Fertility rate with bromocriptine in infertile women with galactorrhea. Fertility and Sterility. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S053151310401180X
  • Peña, K. S., & Rosenfeld, J. A. (2001). Evaluation and treatment of galactorrhea. American Family Physician, 63(9), 1763–1770.
  • Mayo Clinic Staff. (2025). Galactorrhea — Diagnosis & treatment. Mayo Clinic. Retrieved from https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/galactorrhea/diagnosis-treatment/drc-20350434
  • Huang, W., & Molitch, M. E. (2012). Evaluation and management of galactorrhea. American Family Physician, 85(11), 1073–1080.
  • Haidenberg-David, F., Sidauy-Adissi, J., Moscona-Nissan, A., Jonguitud-Zumaya, E., Fugarolas-Morinelli, M., Martinez-Mendoza, F., … & Mercado, M. (2024). Overview of hyperprolactinemia: General approach and reproductive health implications. Archives of Medical Research, 55(8), 103102.