Banyak Mams diam-diam merasa lelah dan lebih mudah tersulut emosi, meski setiap hari sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Si Kecil. Rutinitas pengasuhan yang berjalan terus-menerus sering membuat rasa capek menumpuk dan sulit benar-benar hilang. Jika Mams mengalaminya, ini bukan tanda kurang kuat, melainkan sinyal bahwa beban pengasuhan sedang terasa terlalu berat.

Tekanan ini makin terasa di era parenting yang serba cepat. Jadwal padat, tuntutan perkembangan, dan standar ibu ideal di media sosial membuat Mams seolah harus selalu “cukup” dan bahkan “lebih”. Di tengah kondisi tersebut, slow parenting adalah pendekatan yang membantu Mams melambat, bernapas kembali, dan hadir lebih utuh tanpa terus merasa dikejar-kejar.

Burnout Mams Berasal dari Pola Asuh yang Terlalu Cepat

Burnout pada ibu tidak muncul karena Mams kurang sabar atau tidak cukup kuat. Dalam psikologi, kelelahan ini justru lahir dari stres yang berlangsung lama dan terus menumpuk. Ketika tuntutan pengasuhan datang bertubi-tubi tanpa ruang pemulihan yang memadai, tubuh dan pikiran ibu akan kehabisan energi. Kondisi ini dikenal sebagai parental burnout, yaitu kelelahan emosional berkepanjangan yang sangat wajar dialami orang tua.

Secara umum, parental burnout ditandai oleh tiga hal. Pertama, rasa lelah emosional yang dalam dan tidak kunjung hilang. Kedua, muncul jarak emosional dengan anak, bukan karena hilangnya rasa sayang, tetapi karena cadangan energi mental menipis. Ketiga, perasaan bersalah dan pikiran bahwa diri sendiri “tidak cukup baik” sebagai ibu. Penelitian menunjukkan kondisi ini sering muncul ketika tuntutan pengasuhan jauh lebih besar daripada sumber daya emosional yang dimiliki Mams.

Budaya parenting yang serba cepat memperbesar risiko ini. Jadwal Si Kecil yang padat, target pencapaian yang ketat, serta dorongan untuk selalu terlihat produktif membuat ibu jarang benar-benar berhenti. Media sosial pun kerap memperkuat perbandingan yang tidak realistis. Dalam konteks inilah slow parenting adalah respons yang masuk akal, bukan solusi bagi ibu yang lemah. Pendekatan ini mengajak Mams memperlambat ritme agar bisa pulih, terhubung kembali, dan menjaga kesehatan emosional dalam jangka panjang.

Slow Parenting Membantu Menurunkan Tekanan Mental Mams

Slow parenting adalah pendekatan yang secara nyata membantu mengurangi tekanan mental ibu dengan menyederhanakan keseharian. Dalam pengasuhan modern, Mams dihadapkan pada begitu banyak keputusan kecil setiap hari, mulai dari jadwal, aktivitas, hingga target perkembangan. Psikologi menyebut kondisi ini sebagai decision fatigue, yaitu kelelahan mental akibat terlalu sering mengambil keputusan. Saat jumlah keputusan berkurang, energi mental pun lebih terjaga.

Berbagai studi menunjukkan bahwa tuntutan berlebihan dan multitasking meningkatkan risiko stres kronis pada orang tua. Stres yang berlangsung lama tidak hanya membuat ibu mudah lelah, tetapi juga memengaruhi suasana hati dan kemampuan mengelola emosi. Di sinilah slow parenting bekerja, dengan cara memperlambat ritme, menyederhanakan agenda, dan menurunkan tekanan untuk selalu “produktif”. Ketika tuntutan terasa lebih realistis, sistem saraf ibu memiliki kesempatan untuk kembali stabil.

Inti dari pendekatan ini adalah presence over performance, yaitu hadir sepenuhnya lebih penting daripada melakukan banyak hal. Kehadiran yang utuh terbukti membantu menurunkan stres dan memperbaiki regulasi emosi. Saat Mams tidak lagi sibuk mengejar pencapaian, tubuh dan emosi bisa kembali ke ritme yang lebih manusiawi. Karena itu, slow parenting adalah proses menata ulang kesehatan mental orang tua, bukan mengubah Si Kecil agar sesuai standar tertentu.

Navila All Products

Mengikuti Ritme Anak Membuat Mams Lebih Tenang

Ketika Mams terus berada dalam posisi mengatur dan mengendalikan setiap aktivitas Si Kecil, energi emosional bisa cepat terkuras. Otak bekerja tanpa henti untuk mengarahkan, mengingatkan, menilai, dan mengoreksi. Tanpa disadari, tubuh berada dalam kondisi siaga terus-menerus, yang memicu stres berkepanjangan. Tak heran jika emosi lebih mudah meledak saat hal kecil tidak berjalan sesuai rencana.

Dalam slow parenting, Si Kecil diberi ruang untuk memimpin minat dan permainan sesuai tahap usianya. Saat ia diberi kesempatan memilih, Mams tidak perlu terus berada dalam mode “mengontrol”. Penelitian psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak yang diberi otonomi cenderung lebih kooperatif dan mampu mengelola emosinya sendiri. Ketika ia lebih tenang dan mandiri, interaksi sehari-hari pun terasa jauh lebih ringan.

Dampaknya sangat terasa bagi Mams. Konflik berkurang karena tidak ada tarik-menarik kekuasaan yang berlebihan. Rasa gagal sebagai ibu pun menurun karena tidak semua momen harus sempurna. Hubungan menjadi lebih hangat dan setara, sehingga Mams bisa menikmati momen kecil tanpa kelelahan emosional yang menumpuk.

Slow Parenting untuk Ketahanan Emosional Keluarga

Slow parenting sering disalahpahami sebagai pola asuh yang terlalu santai. Padahal, pendekatan ini bukan permisif dan bukan tanpa batasan. Riset psikologi perkembangan menunjukkan bahwa anak membutuhkan orang tua yang hangat, responsif, dan konsisten. Dalam slow parenting, aturan tetap ada, tetapi disesuaikan dengan usia dan kesiapan Si Kecil. Disiplin dibangun melalui pemahaman, bukan tekanan atau rasa takut.

Pendekatan ini juga mendukung perkembangan jangka panjang. Studi menunjukkan bahwa anak yang memiliki ruang bermain bebas dan kesempatan mengambil keputusan kecil cenderung lebih percaya diri dan mandiri. Ia belajar mengelola emosi, menyelesaikan masalah, dan memahami tanggung jawab secara bertahap. Hasilnya bukan sekadar pencapaian instan, melainkan keterampilan hidup yang bertahan lama.

Manfaatnya pun dirasakan seluruh keluarga. Penelitian tentang parental burnout menunjukkan bahwa tekanan pengasuhan yang berlebihan meningkatkan kelelahan emosional ibu. Dengan slow parenting, fokus kembali pada kualitas hubungan, bukan kesibukan. Keluarga menjadi lebih stabil secara emosional, lebih hangat, dan saling mendukung. Inilah alasan mengapa slow parenting adalah strategi keberlanjutan keluarga, bukan solusi cepat sesaat.

A Word From Navila

Pada dasarnya, slow parenting menekankan bahwa tujuan pengasuhan bukan sekadar membuat anak tampak sibuk dan terlihat “maju”, melainkan membangun keluarga yang sehat secara emosional. Saat orang tua berhenti mengejar standar dari luar dan memilih hadir sepenuhnya, hubungan menjadi lebih hangat dan saling memahami. Si Kecil pun merasa aman untuk tumbuh, belajar, dan mencoba hal baru tanpa tekanan berlebihan. Dengan ritme yang lebih selaras, stres berkurang, emosi lebih stabil, dan kelelahan tidak terus menumpuk.

Karena itu, slow parenting layak dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi kesejahteraan keluarga, bukan solusi instan. Jika Mams ingin memahami lebih dalam berbagai pendekatan pengasuhan dan dampaknya pada tumbuh kembang anak, Mams bisa melanjutkan bacaan tentang jenis-jenis pola asuh di Jenis Pola Asuh Anak dan Dampaknya.


References

  • Parents. Feeling Burnt Out? Here’s Why ‘Slow Parenting’ Might Be Right for Your Family. Retrieved from https://www.parents.com/slow-parenting-8776471
  • Rusu, P. P., Candel, O. S., Bogdan, I., Ilciuc, C., Ursu, A., & Podina, I. R. (2025). Parental Stress and Well-Being: A Meta-analysis. Clinical child and family psychology review, 1-20.
  • Benoit Allen, K., Silk, J. S., Meller, S., Tan, P. Z., Ladouceur, C. D., Sheeber, L. B., … & Ryan, N. D. (2016). Parental autonomy granting and child perceived control: Effects on the everyday emotional experience of anxious youth. Journal of Child Psychology and Psychiatry, 57(7), 835-842.
  • Garcia, O. F., & Serra, E. (2019). Raising children with poor school performance: Parenting styles and short-and long-term consequences for adolescent and adult development. International journal of environmental research and public health, 16(7), 1089.