Di minggu-minggu awal Ramadan, cukup banyak Mams yang merasakan tubuh tiba-tiba terasa kurang nyaman. Perut terasa penuh, badan mudah meriang, atau energi menurun tanpa pemicu yang jelas. Tidak sedikit yang kemudian bertanya, kenapa baru beberapa hari berpuasa, kondisi tubuh terasa seperti masuk angin? Keluhan ini sering dianggap wajar atau dikaitkan dengan cuaca, padahal ada proses adaptasi tubuh yang sedang berlangsung di baliknya.

Perubahan jam makan, pola minum, hingga ritme istirahat membuat tubuh perlu menyesuaikan diri secara bertahap. Saat adaptasi ini belum berjalan optimal, tubuh bisa memberi sinyal berupa rasa tidak enak badan. Karena itu, memahami cara mencegah masuk angin sejak awal Ramadan menjadi langkah penting agar Mams tetap nyaman berpuasa, fokus beribadah, dan menjalani aktivitas harian dengan lebih stabil. Artikel ini akan mengulas penyebabnya secara menyeluruh sekaligus membahas pencegahan yang realistis dan mudah diterapkan.

Kenapa Masuk Angin Sering Terjadi di Minggu Awal Ramadan?

Memasuki minggu pertama Ramadan, tubuh mengalami perubahan ritme secara mendadak. Jam makan yang sebelumnya tersebar sepanjang hari kini hanya terjadi saat sahur dan berbuka. Pola tidur ikut bergeser karena waktu istirahat malam menjadi lebih singkat dan bangun lebih awal. Perubahan cepat ini membuat ritme biologis belum sepenuhnya seimbang, sehingga tubuh mudah memberi respon berupa lemas atau rasa tidak nyaman.

Selama puasa, asupan cairan terhenti cukup lama. Jika kebutuhan cairan tidak terpenuhi dengan baik saat malam hari, tubuh dapat mengalami dehidrasi ringan. Kondisi ini memengaruhi sirkulasi darah dan pengaturan suhu tubuh, sehingga Mams bisa merasa lebih mudah kedinginan atau kurang bertenaga. Sensasi inilah yang sering diterjemahkan sebagai masuk angin, meski sebenarnya berakar dari keseimbangan cairan yang belum optimal.

Di sisi lain, sistem pencernaan juga bekerja dengan pola berbeda. Lambung berada dalam kondisi kosong lebih lama, lalu harus bekerja intens saat berbuka. Jika adaptasi ini belum berjalan mulus, keluhan seperti kembung atau begah dapat muncul. Karena itu, masuk angin bukanlah penyakit khusus, melainkan istilah umum untuk kumpulan gejala akibat tubuh yang masih menyesuaikan diri dengan ritme baru selama Ramadan.

Hubungan Pola Makan Sahur & Berbuka dengan Gejala Masuk Angin

Saat berbuka, kebiasaan makan terlalu cepat dan langsung dalam porsi besar dapat membuat kerja lambung terasa berat. Setelah berjam-jam kosong, lambung membutuhkan waktu untuk kembali aktif secara bertahap. Makanan tinggi lemak seperti gorengan juga dicerna lebih lama, sehingga rasa penuh dan kembung lebih mudah muncul. Kondisi ini sering membuat tubuh terasa tidak nyaman meski kebutuhan energi sudah terpenuhi.

Sahur pun memiliki peran penting dalam menjaga kenyamanan tubuh di siang hari. Menu yang minim serat dan protein membuat energi cepat turun dan rasa lemas lebih mudah muncul. Kurangnya keseimbangan nutrisi juga dapat memicu pembentukan gas berlebih di saluran cerna. Kombinasi inilah yang sering membuat tubuh terasa kurang fit meski tidak sedang sakit.

Selain jenis makanan, suhu minuman saat berbuka sering kali luput dari perhatian. Minuman yang terlalu dingin dapat memperlambat kerja lambung dan membuat proses cerna terasa lebih berat. Jika dikombinasikan dengan makan cepat, rasa begah akan terasa lebih kuat. Karena itu, pendekatan yang tepat dalam cara mencegah masuk angin sebaiknya dimulai dari ritme makan yang lebih bersahabat dengan pencernaan.

Navila All Products

Peran Cairan, Elektrolit, dan Suhu Tubuh dalam Mencegah Masuk Angin

Selama berpuasa, tubuh tetap kehilangan cairan melalui napas, keringat, dan aktivitas harian. Ketika cairan tubuh berkurang, kemampuan tubuh mengatur suhu ikut terpengaruh. Aliran darah ke permukaan kulit menjadi kurang optimal, sehingga tubuh lebih mudah merasa dingin atau pegal meski aktivitas tidak berat. Inilah salah satu alasan rasa tidak enak badan sering muncul di awal Ramadan.

Selain air, tubuh juga membutuhkan elektrolit untuk membantu cairan terserap dengan baik. Elektrolit berperan menjaga keseimbangan cairan di dalam sel dan mendukung kerja otot serta saraf. Jika asupannya kurang, tubuh bisa terasa cepat lelah atau kurang bertenaga. Karena itu, pemenuhan cairan sebaiknya disertai nutrisi yang seimbang agar tubuh tetap stabil selama puasa.

Paparan AC atau angin malam setelah berbuka juga dapat memperkuat sensasi tidak nyaman. Saat tubuh belum sepenuhnya pulih dari dehidrasi ringan, perubahan suhu lingkungan terasa lebih ekstrem. Inilah sebabnya cara mencegah masuk angin tidak cukup hanya dengan menjaga tubuh dari angin, tetapi juga memastikan hidrasi dan nutrisi terpenuhi dengan baik.

Strategi Pencegahan Masuk Angin yang Realistis Selama Ramadan

Agar tubuh tetap nyaman menjalani puasa, pencegahan sebaiknya dilakukan melalui kebiasaan harian yang selaras dengan cara kerja tubuh.

1. Pola Minum Bertahap dari Berbuka hingga Sahur

Minum dalam jumlah besar sekaligus saat berbuka membuat tubuh kesulitan menyerap cairan secara optimal. Sebagian cairan justru cepat dikeluarkan kembali, sehingga kebutuhan hidrasi belum benar-benar terpenuhi. Kondisi ini dapat memicu rasa lemas dan tidak nyaman di siang hari.

Pola minum bertahap memberi kesempatan tubuh menyerap cairan dengan lebih efektif. Minum sedikit demi sedikit dari berbuka hingga sahur membantu menjaga keseimbangan cairan dan suhu tubuh. Kebiasaan ini menjadi dasar penting dalam menjaga stamina selama Ramadan.

2. Menu Sahur Seimbang (Karbohidrat Kompleks, Protein, dan Lemak Baik)

Menu sahur yang seimbang membantu energi dilepas secara perlahan sepanjang hari. Karbohidrat kompleks menjaga rasa kenyang lebih lama, protein membantu stabilitas energi, dan lemak baik mendukung fungsi tubuh secara keseluruhan.

Kombinasi ini membuat tubuh bekerja lebih efisien dan tidak mudah terasa lemas atau menggigil. Dengan pencernaan yang lebih stabil, rasa kembung pun dapat diminimalkan. Inilah salah satu fondasi utama dalam cara mencegah masuk angin secara alami selama puasa.

3. Hindari Langsung Tidur Setelah Berbuka atau Sahur

Tidur segera setelah makan dapat menghambat proses cerna. Posisi berbaring membuat perut terasa penuh dan tidak nyaman. Memberi jeda sebelum tidur membantu lambung bekerja lebih optimal.

Aktivitas ringan seperti duduk santai atau berjalan pelan setelah makan dapat membantu proses pencernaan. Dengan cara ini, tubuh terasa lebih ringan dan nyaman hingga waktu istirahat.

4. Menjaga Kehangatan Tubuh di Malam Hari Tanpa Overheat

Di malam hari, suhu tubuh cenderung menurun secara alami. Paparan udara dingin dapat mempercepat penurunan ini dan memicu rasa pegal atau tidak nyaman. Menjaga tubuh tetap hangat membantu sirkulasi darah tetap lancar.

Kehangatan juga membantu otot dan pencernaan bekerja lebih rileks. Penggunaan minyak kayu putih Navila dapat menjadi pendukung yang praktis untuk memberikan rasa hangat dan nyaman tanpa membuat tubuh terasa gerah.

A Word From Navila

Di minggu awal Ramadan, tubuh memang membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pola makan, minum, dan istirahat. Proses adaptasi ini wajar dan akan membaik seiring konsistensi menjaga kebiasaan sehat. Saat tubuh mulai menemukan ritmenya, keluhan seperti lemas atau kembung biasanya berkurang secara alami.

Minyak Kayu Putih Navila

Memahami cara mencegah masuk angin bukan sekadar demi kenyamanan, tetapi juga bagian dari menjaga kualitas ibadah selama Ramadan. Dengan tubuh yang lebih hangat dan rileks, Mams bisa menjalani puasa dengan lebih tenang. Navila Minyak Kayu Putih dapat menjadi bagian dari rutinitas malam untuk membantu memberi rasa nyaman sebelum beristirahat, sehingga Ramadan pun terasa lebih ringan dan menyenangkan. Yuk, ketahui manfaat lengkapnya di: Navila Minyak Kayu Putih.


References

  • Zekey, F. S., & BaÅŸak, F. (2025). The Impact of Ramadan Fasting on Dyspeptic Complaints. Journal of Clinical Gastroenterology, 10-1097.
  • Leiper, J. B., & Molla, A. M. (2003). Effects on health of fluid restriction during fasting in Ramadan. European journal of clinical Nutrition, 57(2), S30-S38.
  • Mazzawi, T., Bartsch, E., Benammi, S., Ferro, R. M. C., Nikitina, E., Nimer, N., … & Hausken, T. (2019). Gastric emptying of low-and high-caloric liquid meals measured using ultrasonography in healthy volunteers. Ultrasound International Open, 5(01), E27-E33.
  • Sawka, M. N., Montain, S. J., & Latzka, W. A. (2001). Hydration effects on thermoregulation and performance in the heat. Comparative Biochemistry and Physiology Part A: Molecular & Integrative Physiology, 128(4), 679-690.