Mams mungkin pernah merasa bingung saat melihat si kecil sering berkedip berulang, mengangkat bahu tanpa sadar, atau tiba-tiba mengeluarkan suara tertentu yang sulit dihentikan. Awalnya, perilaku ini kerap dianggap sebagai kebiasaan, fase tumbuh kembang, atau sekadar keisengan. Tak jarang pula muncul anggapan bahwa dia kurang fokus, mencari perhatian, atau perlu ditegur agar berhenti.

Padahal, pada sebagian anak, tanda-tanda tersebut bisa berkaitan dengan Tourette syndrome. Kondisi ini merupakan gangguan pada sistem saraf yang umumnya mulai terlihat sejak masa kanak-kanak dan tidak ada hubungannya dengan kesalahan pola asuh orang tua. Tanpa pemahaman yang tepat, si kecil berisiko disalahpahami dan tidak mendapatkan dukungan yang ia butuhkan. Karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali apa itu Tourette syndrome, memahami gejalanya, serta mengetahui cara mendampingi anak dengan pendekatan yang lebih tepat dan empatik.

Apa Itu Tourette Syndrome? Bukan Sekadar Kebiasaan

Tourette syndrome adalah gangguan perkembangan sistem saraf yang membuat anak mengalami tic, yaitu gerakan atau suara yang muncul berulang, cepat, dan tidak disengaja. Tic ini bukan dilakukan dengan niat tertentu dan sering muncul tiba-tiba. Artinya, anak dengan Tourette tidak memilih untuk melakukan gerakan atau suara tersebut, dan tidak bisa mengontrolnya sepenuhnya.

Berbeda dengan kebiasaan atau perilaku iseng, tic tetap muncul meski anak sudah diingatkan atau diminta berhenti. Pada kebiasaan biasa, anak masih bisa menahan diri ketika ditegur. Sementara pada Tourette, menahan tic justru menimbulkan rasa tidak nyaman yang kuat di tubuh. Karena itu, pendekatan berupa teguran atau hukuman tidak efektif dan justru berisiko memperberat kondisi emosionalnya.

Secara sederhana, tic terjadi karena sistem saraf yang mengatur gerakan dan impuls bekerja dengan cara yang berbeda. Menariknya, tic bisa berkurang saat anak sangat fokus, misalnya ketika bermain atau melakukan aktivitas yang ia sukai. Namun, tic sering muncul lebih sering saat dia lelah, stres, atau terlalu bersemangat. Pola ini menunjukkan bahwa Tourette bersifat neurologis, bukan masalah perilaku atau emosi semata.

Gejala Tourette Syndrome yang Sering Tidak Disadari

Tourette syndrome ditandai oleh tic motorik dan/atau tic vokal yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu. Karena sering muncul ringan di awal, banyak orang tua tidak langsung menyadarinya. Padahal, mengenali gejala sejak dini membantu orang tua memberikan respons yang lebih tepat dan menghindari kesalahpahaman.

Gejala umumnya mulai terlihat di usia sekitar 5โ€“7 tahun, saat si kecil memasuki masa sekolah awal. Pada fase ini, otak sedang berkembang pesat, terutama bagian yang mengatur gerakan, perhatian, dan kontrol impuls. Seiring waktu, bentuk dan intensitas tic bisa berubah-ubah. Pada sebagian anak, gejala justru membaik secara alami saat memasuki usia remaja.

Tic Motorik

Tic motorik berupa gerakan tubuh yang muncul tiba-tiba dan berulang, seperti sering berkedip, wajah menegang, atau mengangkat bahu. Gerakan ini bukan refleks biasa dan bukan dilakukan dengan sengaja. Awalnya sering terlihat ringan, sehingga kerap dianggap sepele.

Seiring pertumbuhan, tic motorik dapat berpindah atau berubah bentuk. Gerakan di wajah bisa berkurang, lalu digantikan gerakan di kepala atau tangan. Perubahan ini merupakan pola yang umum dan tidak selalu menandakan kondisi memburuk. Banyak anak juga mampu menahan tic sementara, terutama di tempat umum. Namun, saat berada di rumah dan merasa aman, tic sering muncul lebih sering karena tubuhnya โ€œmelepaskanโ€ dorongan yang tertahan.

Tic Vokal

Selain gerakan, Tourette juga bisa ditandai dengan tic vokal, seperti berdehem, batuk kecil, mendengus, atau mengeluarkan suara pendek tertentu. Karena sering dikira akibat flu atau alergi, gejala ini kerap luput diperhatikan. Padahal, jika muncul berulang tanpa sebab fisik yang jelas, tic vokal patut dicermati.

Sama seperti tic motorik, bentuk tic vokal juga bisa berubah dari waktu ke waktu. Hal ini sering membuat orang tua bingung, padahal fluktuasi merupakan ciri khas Tourette. Lingkungan yang tenang dan suportif sangat membantu mengurangi tekanan emosional yang dirasakan anak akibat kondisi ini.

Coprolalia

Coprolalia adalah tic vokal berupa ucapan kata-kata kasar atau tidak pantas. Meski sering diasosiasikan dengan Tourette, faktanya kondisi ini sangat jarang terjadi. Sebagian besar anak dengan Tourette tidak mengalami coprolalia sama sekali.

Penting bagi orang tua untuk memahami hal ini agar tidak terbentuk stigma berlebihan. Coprolalia, bila terjadi, bukan cerminan kepribadian atau nilai moral anak, melainkan gejala neurologis yang berada di luar kendalinya. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat lebih fokus pada dukungan emosional dibanding rasa takut yang berlebihan.

Banyak anak dengan Tourette sebenarnya menyadari tic yang ia alami. Sebelum tic muncul, sering ada sensasi tidak nyaman seperti tekanan di tubuh atau tenggorokan. Setelah tic terjadi, muncul rasa lega sesaat, lalu siklus ini berulang kembali. Kesadaran ini kerap menimbulkan rasa malu atau cemas, sehingga penerimaan dan dukungan dari lingkungan menjadi sangat penting.

Navila All Products

Mengapa Tourette Syndrome Bisa Terjadi?

Tourette syndrome bukan disebabkan oleh kesalahan orang tua, kurang disiplin, atau pola asuh tertentu. Secara medis, kondisi ini berkaitan dengan perkembangan dan cara kerja otak sejak masa kanak-kanak. Karena itu, menegur atau memaksa anak menghentikan tic tidak akan menyelesaikan masalah.

Faktor genetik berperan cukup besar. Risiko Tourette lebih tinggi pada anak yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan tic atau kondisi neurodevelopmental lain. Selain itu, terdapat perbedaan kerja zat kimia otak yang berperan dalam mengatur gerakan dan impuls. Jalur saraf tertentu bekerja dengan cara yang berbeda, sehingga memicu munculnya tic.

Tourette juga sering muncul bersamaan dengan kondisi lain seperti ADHD atau OCD. Meski demikian, Tourette tidak berkaitan dengan kecerdasan anak. Banyak anak dengan Tourette memiliki kemampuan kognitif yang baik dan bisa berkembang optimal ketika berada di lingkungan yang suportif dan minim tekanan.

Cara Mengatasi Tourette Syndrome dengan Pendekatan Tepat

Tidak semua anak dengan Tourette syndrome membutuhkan obat. Pada banyak kasus, tic tergolong ringan hingga sedang dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan non-obat justru lebih dianjurkan, karena gejala sering membaik seiring pertambahan usia.

Salah satu pendekatan yang direkomendasikan adalah terapi perilaku, seperti Habit Reversal Training. Terapi ini membantu anak mengenali dorongan sebelum tic muncul dan menggantinya dengan respons yang lebih terkontrol. Edukasi kepada orang tua dan lingkungan sekolah juga sangat penting agar tic tidak disalahartikan sebagai perilaku sengaja.

Peran orang tua menjadi kunci utama. Lingkungan yang tenang, aman, dan penuh penerimaan membantu anak merasa dipahami dan tidak tertekan. Alih-alih fokus menghilangkan tic, tujuan utama pendampingan adalah membantu si kecil menjalani keseharian dengan nyaman dan percaya diri.

A Word From Navila

Tourette syndrome adalah kondisi neurologis, bukan kebiasaan buruk atau akibat pola asuh yang keliru. Tic motorik dan vokal yang muncul berulang bukan sesuatu yang bisa dikendalikan sepenuhnya oleh anak. Dengan pemahaman yang tepat, Mams dapat mendampingi si kecil dengan lebih empatik dan penuh penerimaan.

Selain dukungan emosional, kebutuhan tumbuh kembang anak juga perlu diperhatikan secara menyeluruh, termasuk dari sisi nutrisi. Asupan yang tepat berperan dalam mendukung kesehatan saraf dan keseimbangan emosi. Untuk itu, Mams bisa melengkapi informasi melalui: Makanan Sehat untuk Ibu Menyusui dan Bayi sebagai langkah sederhana namun bermakna dalam mendukung tumbuh kembang keluarga secara optimal.


References

  • Tourette Association of America. What is Tourette. Retrieved from https://tourette.org/about-tourette/overview/what-is-tourette/
  • PMC. Tourette Syndrome and Other Tic Disorders in Childhood, Adolescence and Adulthood. Retrieved from https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3523260/
  • PMC. Genetic susceptibility and neurotransmitters in Tourette syndrome. Retrieved from https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24295621/
  • Verywell Mind. What Is Habit Reversal Training? Retrieved from https://www.verywellmind.com/habit-reversal-training-2510618