Pernahkah Mams dan Paps merasa bahwa si sulung tampak lebih dewasa dibandingkan anak seusianya? Dia cepat tanggap saat diminta bantuan, terlihat mandiri, dan sering kali mengambil tanggung jawab tanpa banyak diminta. Bahkan, tak jarang si sulung justru terlalu keras pada dirinya sendiri. Banyak orang tua menganggap ini sebagai ciri khas anak pertama, seolah-olah karakter seperti mandiri, perfeksionis, dan bisa diandalkan memang sudah melekat sejak lahir.
Namun, benarkah karakter tersebut murni bawaan? Atau justru terbentuk dari cara kita mendidik dan memperlakukannya sejak kecil? Faktanya, pola asuh orang tua memiliki andil besar dalam membentuk kepribadian si sulung. Sering kali, tanpa disadari, anak pertama dibebani ekspektasi yang lebih besar dibanding adik-adiknya.
Artikel ini akan membahas lebih jauh tentang karakter khas anak pertama, penyebab munculnya, serta pola asuh yang bisa membantu mereka tumbuh lebih bahagia dan seimbang, bukan sekadar terlihat dewasa sebelum waktunya.
1. Rasa Tanggung Jawab Tinggi
Salah satu karakter anak pertama yang paling sering terlihat adalah rasa tanggung jawab yang tinggi. Sejak kecil, mereka sering dilibatkan dalam berbagai urusan rumah, diminta menjaga adik, hingga membantu pekerjaan orang tua. Karena dianggap lebih dewasa, mereka pun cenderung diberi kepercayaan lebih, bahkan sebelum benar-benar siap secara emosional. Menurut teori birth order Alfred Adler, anak pertama cenderung mengambil peran sebagai pemimpin kecil dalam keluarga karena perhatian awal yang lebih besar.
Sayangnya, jika tanggung jawab ini diberikan tanpa mempertimbangkan usia dan kesiapan mental anak, si sulung bisa merasa terbebani. Di sinilah pentingnya pola asuh authoritative, yaitu tegas namun hangat. Mams dan Paps tetap bisa menanamkan rasa tanggung jawab, namun secara bertahap dan sesuai usia. Validasi emosi si sulung juga perlu diperhatikan. Cukup dengan bertanya, “Kamu capek? Mau istirahat dulu?”, anak akan merasa didengar, sehingga tanggung jawab yang diembannya tidak sampai menggerus sisi emosionalnya.
2. Kepemimpinan Alami
Sebagai anak pertama, si sulung kerap dianggap sebagai teladan bagi adik-adiknya. Tak heran jika mereka lebih cepat belajar memimpin dan mengambil keputusan. Namun, ketika ekspektasi ini terus-menerus dibebankan tanpa arahan yang sehat, rasa percaya diri bisa berubah menjadi dominasi, bahkan tuntutan untuk selalu benar. Studi dari University of Illinois menyebutkan bahwa anak sulung lebih dominan secara sosial karena sering diandalkan sejak kecil.
Untuk membantu kemampuan kepemimpinan ini berkembang secara positif, Mams dan Paps bisa memberikan ruang diskusi dan kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pendapat. Jangan biasakan si sulung untuk selalu mengalah hanya karena dia “kakak.” Ajarkan bahwa menjadi pemimpin bukan soal mengatur, tapi soal memahami. Pola asuh yang demokratis akan menumbuhkan karakter pemimpin yang tidak hanya kuat, tetapi juga bijak dan empatik.
3. Perfeksionis
Perfeksionisme sering ditemukan pada anak pertama. Mereka tumbuh di bawah sorotan penuh dari orang tua dan dijadikan panutan sejak dini. Ekspektasi tinggi ini kerap membuat anak mengaitkan nilai dirinya dengan pencapaian. Ketika pujian hanya diberikan saat anak berhasil, bukan saat dia berusaha, maka timbul anggapan bahwa gagal berarti buruk.
Kondisi ini bisa mengarah pada perfeksionisme maladaptif, yakni rasa takut gagal yang ekstrem dan berisiko memicu stres hingga depresi. Maka, penting bagi orang tua untuk mulai menghargai proses, bukan hanya hasil. Katakan, “Ibu bangga kamu sudah coba berkali-kali,” alih-alih hanya “Hebat ya, kamu juara satu.” Pola pikir seperti ini akan membentuk anak yang tangguh, tidak takut gagal, dan mampu belajar dari kesalahan.
4. Terlihat Dewasa Sebelum Waktunya
Si sulung sering kali terlihat jauh lebih dewasa karena sejak kecil sudah dibiasakan “mengerti.” Mereka tahu kapan harus membantu, kapan harus diam, dan kapan harus mengalah. Padahal, mereka tetap anak-anak yang punya kebutuhan untuk bermain, menangis, dan merasa bingung tanpa harus selalu mengerti.
Memberikan ruang aman untuk si sulung mengekspresikan emosi sangat penting. Pendekatan seperti emotional coaching bisa membantu anak memahami perasaannya sendiri. Contohnya, saat anak marah, daripada memintanya diam, cobalah katakan, “Ayah tahu kamu kesal. Mau tarik napas bareng dulu nggak?” Langkah kecil ini membantu anak mengenali emosinya dan tumbuh dengan ketahanan mental yang lebih kuat.
5. Haus Pengakuan, Karena Dulu Pernah Jadi Satu-Satunya
Perubahan peran dari “anak satu-satunya” menjadi “kakak” bukan hal yang mudah. Setelah kelahiran adik, si sulung sering merasa tersingkir dari pusat perhatian keluarga. Jika perasaan ini tidak ditanggapi dengan empati, anak bisa tumbuh dengan kebutuhan konstan untuk diakui, bahkan sampai mengorbankan dirinya demi menyenangkan orang lain.
Kondisi ini bisa memunculkan perilaku people pleaser, yakni selalu ingin menyenangkan orang lain agar tetap merasa dicintai. Untuk menghindari hal ini, luangkan waktu berkualitas secara khusus bersama si sulung. Tak perlu lama, 10–15 menit sehari saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia tetap istimewa. Hindari juga membandingkan anak dengan adiknya, karena yang dibutuhkan si sulung bukan kompetisi, tapi koneksi.
6. Patuh tapi Takut Salah
Sebagai “percobaan pertama” dalam pengasuhan, anak sulung sering dibesarkan dalam aturan yang lebih ketat. Gaya pengasuhan ini cenderung otoriter, yaitu tegas tapi kurang memberi ruang untuk berdiskusi. Akibatnya, anak mungkin tumbuh patuh, tetapi penuh ketakutan untuk salah langkah.
Pola asuh yang ideal adalah yang suportif, memberi batasan tapi juga ruang bicara. Jelaskan alasan di balik larangan agar anak belajar memahami, bukan hanya menaati. Misalnya, “Main di luar malam-malam bisa bikin kamu masuk angin,” bukan hanya, “Nggak boleh keluar!” Dengan begitu, anak belajar tanggung jawab dan berpikir kritis. Mereka akan lebih percaya diri untuk mencoba, mengambil keputusan, dan belajar dari kesalahan tanpa takut dimarahi.
A Word From Navila
Menjadi anak pertama bukan hanya soal urutan kelahiran. Ada banyak tekanan, ekspektasi, dan dinamika yang turut membentuk cara mereka tumbuh. Maka tak heran bila karakter anak pertama sering kali terlihat lebih matang, perfeksionis, atau haus pengakuan. Namun semua karakter ini tidak terbentuk begitu saja, mereka sangat dipengaruhi oleh pola asuh orang tua sejak dini.
Mams & Paps bisa mulai dengan mengevaluasi pola pengasuhan yang diterapkan. Apakah sudah cukup suportif, atau justru terlalu menuntut? Ingatlah bahwa anak pertama tetaplah anak-anak yang berhak bermain, menangis, dan merasa salah tanpa dihakimi. Bagi sebagian keluarga, memahami karakter anak pertama juga bisa menjadi bagian dari refleksi selama masa-masa penting, termasuk saat menjalani perawatan setelah melahirkan anak pertama. Di momen-momen itu, pola pengasuhan mulai terbentuk dan menentukan bagaimana anak berkembang di tahun-tahun berikutnya.
Jika ingin memahami lebih dalam tentang jenis-jenis pola asuh dan dampaknya terhadap anak, yuk lanjutkan membaca di artikel: Jenis-Jenis Pola Asuh yang Perlu Diketahui Orang Tua. Karena pola asuh yang sehat bukan hanya soal mengarahkan, tapi juga soal mendampingi dengan kasih.
References
- Luo, R., Song, L., & Chiu, I. M. (2022). A closer look at the birth order effect on early cognitive and school readiness development in diverse contexts. Frontiers in Psychology, 13, 871837. https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2022.871837/full
- University of Illinois. Massive study: Birth order has no meaningful effect on personality or IQ. Retrieved from https://news.illinois.edu/massive-study-birth-order-has-no-meaningful-effect-on-personality-or-iq/
- Parenting Science. The authoritative parenting style: An evidence-based guide. Retrieved from https://parentingscience.com/authoritative-parenting-style/
- Verywell Mind. How Does Birth Order Shape Your Personality? Retrieved from https://www.verywellmind.com/how-does-birth-order-shape-your-personality-8431968
- Louis, P. T., & Kumar, N. (2016). Does birth order and academic proficiency influence perfectionistic self-presentation among undergraduate engineering students? A descriptive analysis. Indian journal of psychological medicine, 38(5), 424-430. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.4103/0253-7176.191388
- Harvard Summer School. Perfectionism Might Be Hurting You. Here’s How to Change Your Relationship to Achievement. Retrieved from https://summer.harvard.edu/blog/perfectionism-might-be-hurting-you-heres-how-to-change-your-relationship-to-achievement/
- Zhang, Q., Wu, W., Sheng, L., Xi, X., Zhou, Y., Wen, Y., & Liu, Q. (2023). Emotional and Behavioral Changes in Preschool Firstborn Children During Transition to Siblinghood: A Mixed Methods Study. Psychology Research and Behavior Management, 2029-2044. https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.2147/PRBM.S411729
- Psychology Today. The Challenges Facing a Firstborn Child. Retrieved from https://www.psychologytoday.com/us/blog/how-raise-happy-cooperative-child/201902/the-challenges-facing-firstborn-child