Setiap hari, tanpa sadar, kita kerap membuat pilihan-pilihan kecil yang berdampak besar bagi bumi. Mulai dari memakai kantong plastik, membeli produk sekali pakai, hingga membiarkan lampu menyala saat tidak digunakan. Di tengah krisis iklim dan meningkatnya jumlah limbah, muncul satu pola hidup yang kini jadi sorotan, yaitu sustainable living atau hidup berkelanjutan.

Lebih dari sekadar tren ramah lingkungan, sustainable living mengajarkan kita untuk lebih bijak dalam menggunakan sumber daya. Gaya hidup ini bukan hanya menekankan pengurangan limbah, tapi juga memperhitungkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan. 

Artikel ini akan mengajak Mams memahami makna sustainable living secara mendalam, mengenal contoh dari budaya lokal, hingga mencoba langkah-langkah mudah yang bisa diterapkan di rumah. Saatnya kita mulai perjalanan menuju hidup yang lebih bertanggung jawab dan bermakna, demi keluarga dan bumi kita tercinta.

Apa Itu Sustainable Living dan Mengapa Semakin Penting?

Sustainable living adalah pola hidup yang menekankan pengurangan dampak negatif terhadap lingkungan dengan cara membuat keputusan yang lebih sadar dan bertanggung jawab. Ini mencakup efisiensi penggunaan energi, pengelolaan air, konsumsi makanan lokal, serta pemilihan barang-barang yang tahan lama. Intinya, setiap aspek kehidupan diarahkan untuk menjaga keberlanjutan bumi bagi generasi yang akan datang.

Tahun ini menjadi momen krusial dalam upaya menahan laju pemanasan global. Laporan IPCC 2023 memperingatkan bahwa kita hanya punya waktu kurang dari satu dekade untuk mencegah kenaikan suhu bumi melampaui 1,5°C. Jika gagal, konsekuensinya bisa permanen, mulai dari mencairnya es kutub hingga kelangkaan air bersih. Data dari UNICEF bahkan menyebutkan bahwa lebih dari satu dari empat anak kini terdampak krisis air di seluruh dunia.

Dalam konteks ini, hidup berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan, tapi tanggung jawab moral yang harus diemban bersama. Sustainable living turut menjaga kualitas udara, tanah, dan air, faktor penting bagi kesehatan keluarga. Lebih dari itu, pola hidup ini mendukung ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan pangan. Dengan menerapkannya sejak sekarang, kita ikut melindungi bumi agar tetap layak dihuni untuk anak-cucu di masa depan.

Contoh Praktik Sustainable Living dari Kearifan Lokal Indonesia

Jauh sebelum istilah sustainable living populer, masyarakat Indonesia telah menerapkan prinsip serupa lewat budaya dan tradisi lokal. Misalnya, penggunaan daun pisang, anyaman bambu, atau pelepah pinang sebagai pembungkus makanan adalah bentuk nyata upaya pengurangan sampah plastik. Di banyak daerah, kebiasaan ini masih bertahan dan bahkan mulai kembali dilirik karena terbukti ramah lingkungan.

Selain itu, semangat gotong royong yang sudah lama mengakar menjadi kekuatan besar dalam pengelolaan sampah bersama. Keberadaan bank sampah dan program kompos kolektif di berbagai desa membuktikan bahwa kolaborasi masyarakat bisa menjadi solusi berkelanjutan. Menurut BPS, ada lebih dari 12.000 bank sampah aktif di Indonesia yang berkontribusi dalam mengurangi limbah rumah tangga sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.

Penggunaan transportasi rendah emisi juga merupakan bagian dari gaya hidup berkelanjutan yang lahir dari kebiasaan lokal. Di kota seperti Yogyakarta, sepeda dan becak masih digunakan untuk kegiatan harian, terutama di kawasan wisata. Selain mengurangi polusi, moda transportasi ini juga memperkuat identitas budaya. Pemerintah pun mulai memperluas jalur sepeda di berbagai kota budaya untuk mendukung mobilitas yang lebih hijau dan sehat.

Manfaat Sustainable Living bagi Kesehatan, Ekonomi, dan Generasi

Mams, menerapkan gaya hidup berkelanjutan tidak hanya baik untuk lingkungan, tapi juga berdampak langsung pada kesehatan keluarga. Misalnya, berjalan kaki atau bersepeda sebagai pengganti kendaraan bermotor membantu meningkatkan aktivitas fisik harian. Ini berkontribusi pada kebugaran tubuh, kualitas tidur yang lebih baik, dan menurunkan risiko penyakit jantung serta pernapasan.

Dari sisi ekonomi, prinsip ini juga mengajarkan keluarga untuk hidup lebih hemat dan efisien. Mengurangi penggunaan listrik, air, dan produk sekali pakai dapat menekan pengeluaran bulanan. Selain itu, membeli barang tahan lama dan memperbaiki alih-alih mengganti, mendorong pola konsumsi yang lebih bijak. Keluarga pun belajar menghargai sumber daya yang ada dan mengurangi perilaku konsumtif.

Lebih jauh lagi, sustainable living menanamkan nilai-nilai penting bagi anak. Ketika mereka melihat orang tua memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, atau memanfaatkan ulang barang, nilai tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan pun tumbuh secara alami. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan sadar lingkungan cenderung memiliki empati tinggi dan kesiapan lebih baik dalam menghadapi tantangan masa depan.

Cara Mudah Memulai Gaya Hidup Berkelanjutan di Rumah

Mams tidak perlu langsung mengubah segalanya sekaligus. Cukup mulai dari langkah kecil dan konsisten. Misalnya, dengan membiasakan mematikan lampu saat tidak digunakan, mengganti lampu dengan LED hemat energi, atau memanfaatkan cahaya matahari di siang hari. Berdasarkan data Kementerian ESDM, rumah tangga menyumbang 16% konsumsi listrik nasional, jadi perubahan kecil ini bisa berdampak besar.

Langkah berikutnya adalah mengurangi limbah plastik. Mams bisa mulai dengan membawa tas belanja sendiri, menggunakan wadah makanan ulang pakai, dan memilih sabun batang yang minim kemasan. Menghindari air minum dalam kemasan juga jadi kontribusi sederhana yang berdampak luas. Langkah kecil ini bisa membantu menurunkan beban TPA dan mencegah pencemaran laut serta tanah.

Selain itu, coba biasakan memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik dapat dijadikan kompos, sementara sampah anorganik bisa disalurkan melalui aplikasi daur ulang seperti Octopus atau Rekosistem. Libatkan anak dalam kegiatan ini untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini. Menurut laporan National Plastic Action Partnership, hanya 9% sampah plastik Indonesia yang didaur ulang. Sisanya berakhir mencemari lingkungan.

A Word From Navila

Mams, sustainable living bukan tentang menjadi sempurna. Ini tentang membangun kesadaran dan membiasakan diri melakukan hal kecil secara konsisten. Di tengah tantangan iklim dan limbah yang semakin kompleks, setiap keputusan yang Mams buat, mulai dari memilih bahan makanan hingga mengelola sampah, adalah kontribusi nyata bagi kesehatan keluarga dan kelestarian bumi.

Dengan memulai dari rumah dan menumbuhkan nilai tanggung jawab pada anak, Mams sudah menanamkan warisan berharga untuk masa depan. Sustainable living bukan tren sesaat, melainkan wujud cinta kita pada generasi selanjutnya. Yuk, pelajari juga cara menjaga kesehatan keluarga secara menyeluruh di: Cara Menjaga Kesehatan Keluarga.


References

  • IPCC. CLIMATE CHANGE 2023 Synthesis Report. Retrieved from https://www.ipcc.ch/report/ar6/syr/downloads/report/IPCC_AR6_SYR_FullVolume.pdf
  • UNESCO. The United Nations World Water Development Report 2024: Water for prosperity and peace. Retrieved from https://www.unesco.org/en/articles/united-nations-world-water-development-report-2024-water-prosperity-and-peace
  • Kementerian Lingkungan Hidup. KLH-BPLH Tegaskan Arah Baru Menuju Indonesia Bebas Sampah 2029 dalam Rakornas Pengelolaan Sampah 2025. Retrieved from https://www.kemenlh.go.id/news/detail/klh-bplh-tegaskan-arah-baru-menuju-indonesia-bebas-sampah-2029-dalam-rakornas-pengelolaan-sampah-2025?utm_source=chatgpt.com
  • BPS. Hari Peduli Sampah Nasional 2025. Retrieved from https://jogjakota.bps.go.id/id/news/2025/02/21/175/——-hari-peduli-sampah-nasional-2025——-.html
  • Sustainable Living. Unlocking Economic & Social Gains of Sustainable Living. Retrieved from https://sustainableliving.org.nz/unlocking-economic-social-gains-of-sustainable-living/
  • Kementerian ESDM. Indonesia Rentan Perubahan Iklim, Efisiensi Energi Jadi Solusi Mitigasi. Retrieved from https://ebtke.esdm.go.id/artikel/siaran-pers/indonesia-rentan-perubahan-iklim%2C-efisiensi-energi-jadi-solusi-mitigasi