Saat mendengar kata plasenta, Mams mungkin langsung membayangkan organ penting yang melekat di rahim dan menjadi penghubung utama antara Mams dan janin. Wajar saja, karena plasenta memang berperan besar dalam menyalurkan oksigen, nutrisi, serta hormon untuk menunjang pertumbuhan si kecil. Tapi, tahukah Mams? Di balik posisinya yang menempel di tubuh Mams, pembentukan plasenta ternyata lebih banyak dikendalikan oleh gen dari Ayah.
Fakta ini cukup mengejutkan, karena selama ini kita lebih sering mendengar bahwa bayi, dan segala sistem pendukungnya, sepenuhnya dibentuk dari tubuh Mams. Padahal, studi ilmiah terbaru membuktikan bahwa peran ayah dalam kehamilan berlangsung jauh sebelum bayi terlihat tumbuh. Gen dari Ayah tidak hanya menentukan sifat atau jenis kelamin, tetapi juga memainkan peran kunci dalam membentuk dan mengatur fungsi plasenta sejak tahap awal kehamilan.
Melalui artikel ini, Mams akan mendapatkan pemahaman baru tentang bagaimana plasenta terbentuk, bagaimana dominasi genetik Ayah bekerja dalam proses tersebut, dan mengapa ini sangat penting bagi kualitas kehamilan. Yuk, kita kupas lebih dalam, bukan sekadar untuk tahu, tapi juga sebagai bagian dari meluruskan mitos fakta kehamilan yang selama ini beredar di masyarakat.
Plasenta Bukan Bagian dari Tubuh Ibu, Tapi Organ Janin
Meski melekat erat di rahim Mams, plasenta sebenarnya berasal dari sel-sel janin, tepatnya dari lapisan yang disebut trophoblast. Sel ini muncul tak lama setelah pembuahan, yaitu saat sel telur bertemu dengan sperma. Dari situlah plasenta mulai berkembang, menjadi organ vital yang mengatur suplai makanan, oksigen, hingga perlindungan bagi janin selama kehamilan.
Karena berasal dari janin, plasenta membawa kombinasi genetik dari Ayah dan Ibu. Ini artinya, secara biologis, plasenta lebih “serupa” dengan bayi dibandingkan dengan tubuh Mams. Bahkan, sistem imun Mams menganggap plasenta sebagai “tamu” yang harus diterima secara khusus, karena secara genetik, ini bukan bagian tubuh Mams. Untuk itulah tubuh Mams menciptakan toleransi imun demi menjaga keberlangsungan kehamilan.
Plasenta juga memiliki dua sisi, yaitu sisi janin (fetal side) dan sisi maternal dari rahim. Meski keduanya saling terhubung, sebagian besar fungsi penting, seperti menyerap nutrisi dan membuang sisa metabolisme, dikendalikan oleh bagian yang berasal dari janin. Fakta ini menegaskan bahwa plasenta, meski tumbuh di rahim Mams, lebih mencerminkan genetik si kecil dan dominasi peran Ayah dalam pembentukannya.
Gen Ayah Mendominasi Pembentukan Plasenta
Sebuah penelitian menarik yang dimuat dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tahun 2013 mengungkap dominasi genetik Ayah dalam pembentukan plasenta. Para ilmuwan menggunakan teknik silang antara kuda dan keledai untuk melacak asal genetik yang membentuk jaringan plasenta. Lewat pendekatan ini, mereka berhasil membedakan gen mana yang berasal dari Ayah dan mana dari Ibu dengan sangat presisi.
Hasilnya, dari 15 gen imprinting (gen yang dicetak dari orang tua) utama yang aktif di plasenta, sebanyak 10 di antaranya berasal dari Ayah. Selain itu, 78 gen lain juga menunjukkan ekspresi dominan dari sisi Ayah. Salah satu gen penting yang teridentifikasi adalah Insulin Receptor (INSR), yang berperan dalam pengaturan pertumbuhan janin melalui sinyal insulin. Temuan ini memperkuat bukti bahwa plasenta tidak hanya dibentuk oleh gen dari kedua orang tua, tetapi dikendalikan lebih kuat oleh faktor paternal (gen Ayah).
Yang menarik, pola dominasi gen Ayah ini hanya tampak di plasenta, bukan di jaringan janin lainnya. Artinya, plasenta menjadi tempat utama di mana gen Ayah bekerja paling aktif, mengatur distribusi nutrisi, metabolisme, hingga perlindungan imun bagi janin. Setiap kehamilan pun menunjukkan pola ekspresi gen yang berbeda, menciptakan semacam “sidik jari biologis” yang unik untuk setiap bayi.
Mengapa Peran Gen Ayah di Plasenta Itu Penting?
Plasenta bukan hanya saluran nutrisi dan oksigen, ini adalah organ kompleks yang menentukan kualitas tumbuh kembang janin. Dalam konteks ini, dominasi gen Ayah bukanlah hal sepele. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa gen Ayah memiliki peran dalam mengatur berbagai sistem penting, mulai dari metabolisme, pertumbuhan, hingga kekebalan tubuh bayi dalam kandungan.
Sebagai contoh, gen INSR membantu plasenta mengenali dan merespons sinyal insulin, yang sangat penting untuk menyerap glukosa. Jika fungsi ini terganggu, janin bisa kekurangan energi dan mengalami hambatan pertumbuhan. Selain itu, ada gen Histone Acetyltransferase 1 (HAT1) yang memengaruhi struktur DNA dan turut mengatur ekspresi gen-gen lainnya. Bahkan, gen Glycoprotein 6 Cluster of Differentiation (G6C) dari Ayah berperan dalam regulasi sistem imun plasenta, yang membantu melindungi janin dari infeksi maupun reaksi imun yang berlebihan dari tubuh Mams.
Semua ini menunjukkan bahwa kualitas genetik dari sperma Ayah berpengaruh besar pada kondisi dan fungsi plasenta. Maka, menjaga kesehatan Ayah sebelum konsepsi menjadi langkah strategis dalam mendukung kehamilan yang optimal dan aman.
Plasenta, Gen Ayah, dan Variasi Tiap Kehamilan
Meski berasal dari proses biologis yang sama, setiap plasenta yang terbentuk dalam kehamilan bisa berbeda, bahkan pada Ibu yang sama. Ini karena ekspresi gen dari Ayah di plasenta dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pola makan, stres, atau kesehatan Ayah sebelum pembuahan. Faktor-faktor ini meninggalkan “jejak epigenetik” di sperma, yang kemudian memengaruhi bagaimana gen tersebut aktif dalam plasenta.
Akibatnya, dua kehamilan dengan pasangan yang sama pun bisa memberikan pengalaman berbeda. Perbedaan ini tidak hanya terasa secara fisik oleh Mams, tapi juga berdampak pada pertumbuhan janin. Misalnya, variasi genetik dapat memengaruhi efektivitas plasenta dalam menyerap nutrisi, menyalurkan hormon, atau membentuk sistem imun janin.
Dengan memahami hal ini, Mams jadi tahu bahwa setiap kehamilan membawa kombinasi genetik dan epigenetik yang unik. Itulah sebabnya penting bagi kedua orang tua, termasuk Ayah, untuk menjaga kondisi fisik dan mental sejak sebelum konsepsi, karena kualitas awal inilah yang akan membentuk lingkungan terbaik bagi tumbuh kembang si kecil.
Tips Ayah Menjaga Kesehatan Sperma Demi Plasenta yang Sehat
Plasenta yang sehat dimulai dari sperma yang sehat. Karena gen Ayah memegang peranan penting dalam pembentukan plasenta, kualitas sperma sangat menentukan hasilnya. Jika DNA sperma rusak, maka fungsi plasenta pun berisiko terganggu. Maka dari itu, menjaga kesehatan reproduksi Ayah menjadi langkah strategis dalam persiapan kehamilan.
Gaya hidup sehari-hari sangat memengaruhi kualitas sperma. Rokok, alkohol, stres berlebihan, hingga paparan panas di sekitar skrotum dapat menurunkan kualitas sperma secara signifikan. Sebaliknya, pola makan bergizi, tidur cukup, dan olahraga ringan bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma secara alami.
Berikut langkah sederhana yang bisa dilakukan Paps:
- Jaga berat badan ideal karena obesitas bisa menurunkan kualitas sperma.
- Berhenti merokok dan alkohol karena keduanya terbukti merusak DNA sperma.
- Konsumsi makanan kaya antioksidan, seperti vitamin C, E, zinc, dan omega-3.
- Tidur cukup dan kelola stres, minimal tidur 7 jam sehari untuk menjaga kestabilan hormon.
- Hindari panas berlebih seperti terlalu sering gunakan sauna atau menaruh laptop di pangkuan.
- Rutin olahraga ringan, seperti jogging, berenang, atau jalan kaki bisa jadi pilihan sehat.
Dengan langkah sederhana ini, Paps turut berkontribusi langsung dalam membentuk lingkungan janin yang kuat sejak dalam kandungan.
A Word From Navila
Mams, sekarang kita tahu bahwa kehadiran Ayah dalam kehamilan tidak hanya penting secara emosional, tapi juga berdampak secara biologis. Gen dari Ayah bukan hanya ikut menciptakan janin, tapi juga membentuk plasenta, organ vital yang menjadi tempat bayi bertumbuh selama 9 bulan. Lewat proses pembentukan plasenta yang rumit ini, gen ayah yang turun ke anak ikut berperan dalam mengatur nutrisi, hormon, dan kekebalan janin.
Semua ini memperkuat bahwa kehamilan bukan hanya tentang tubuh Mams, tapi hasil kolaborasi utuh antara dua insan. Maka, peran Ayah setelah bayi lahir pun tak kalah penting, sebagai pendamping, pengasuh, dan pelindung si kecil sepanjang tumbuh kembangnya.
Penasaran bagaimana peran Ayah terus berlanjut setelah bayi lahir? Yuk, lanjut baca artikel berikutnya: Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak.
References
- Wang, X., Miller, D. C., Harman, R., Antczak, D. F., & Clark, A. G. (2013). Paternally expressed genes predominate in the placenta. Proceedings of the National Academy of Sciences, 110(26), 10705-10710. https://www.pnas.org/doi/abs/10.1073/pnas.1308998110
- Herrick, E. J., & Bordoni, B. (2023). Embryology, placenta. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551634/
- Cornell University. Dad’s genes build placentas, study shows. Retrieved from https://news.cornell.edu/stories/2013/08/dad-s-genes-build-placentas-study-shows
- Dini, P., Kalbfleisch, T., Uribe-Salazar, J. M., Carossino, M., Ali, H. E. S., Loux, S. C., … & Ball, B. A. (2021). Parental bias in expression and interaction of genes in the equine placenta. Proceedings of the National Academy of Sciences, 118(16), e2006474118. https://www.pnas.org/doi/abs/10.1073/pnas.2006474118
- Salas-Huetos, A., Rosique-Esteban, N., Becerra-Tomás, N., Vizmanos, B., Bulló, M., & Salas-Salvadó, J. (2018). The effect of nutrients and dietary supplements on sperm quality parameters: a systematic review and meta-analysis of randomized clinical trials. Advances in Nutrition, 9(6), 833-848. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2161831322012728