Tape singkong yang manis legit atau tape ketan yang beraroma khas memang sering menggoda selera. Apalagi saat hamil, keinginan ngemil bisa muncul tiba-tiba. Namun, saat Mams menyampaikan keinginan ini, mungkin ada yang langsung menanggapi, “Lho, bolehkah ibu hamil makan tape singkong?” Pertanyaan itu wajar, karena tape terlihat seperti makanan ringan biasa. Tapi benarkah aman?
Faktanya, tape termasuk makanan fermentasi ibu hamil yang perlu diperhatikan. Tape tidak sekadar camilan tradisional, tapi merupakan hasil fermentasi yang menyimpan kandungan tersembunyi, termasuk alkohol dan risiko kontaminasi mikroba. Artikel ini akan membahas secara ilmiah mengapa tape untuk ibu hamil tidak direkomendasikan, serta alternatif camilan yang lebih aman.
Tape Mengandung Alkohol Fermentasi
Tape berasal dari fermentasi bahan berpati seperti singkong atau ketan menggunakan ragi. Selama proses ini, gula dalam bahan makanan diubah menjadi alkohol dan asam. Meski tidak terasa seperti minuman beralkohol, tape bisa mengandung kadar alkohol hingga 4%, tergantung lamanya fermentasi.
Kandungan alkohol sekecil apa pun berpotensi berbahaya bagi janin. Organisasi kesehatan seperti WHO dan CDC menyatakan bahwa tidak ada jumlah alkohol yang aman dikonsumsi selama kehamilan. Pasalnya, alkohol dapat melewati plasenta dan masuk ke sistem peredaran darah janin. Risiko yang muncul meliputi gangguan pertumbuhan otak, hambatan belajar, serta masalah perilaku yang tergolong dalam Fetal Alcohol Spectrum Disorders (FASDs).
Hal yang perlu Mams pahami, kadar alkohol dalam tape tidak bisa dikenali dari rasa saja. Bahkan tape yang manis sekalipun bisa mengandung alkohol dalam kadar tertentu. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar atau dibuat secara tradisional tanpa standar higienis, risikonya pun semakin tinggi. Inilah mengapa bahaya tape untuk ibu hamil bukanlah mitos, melainkan fakta yang perlu menjadi perhatian.
Tape Rentan Mengandung Mikroorganisme Berbahaya
Proses fermentasi tape tidak melibatkan pemanasan tinggi seperti pasteurisasi. Sebagian besar tape dibuat secara rumahan, yang berarti tingkat kebersihannya sangat bergantung pada pengolah. Kondisi ini membuka celah bagi masuknya mikroorganisme seperti Listeria monocytogenes, bakteri yang berbahaya bagi kehamilan karena mampu menembus plasenta dan menginfeksi janin.
Infeksi Listeria bukan hal sepele. Dampaknya bisa sangat serius, mulai dari keguguran, lahir prematur, hingga infeksi berat pada bayi yang baru lahir. Selain itu, tape juga bisa terpapar jamur Aspergillus, terutama jika bahan bakunya disimpan dalam kondisi lembap atau tidak higienis. Jamur ini dapat menghasilkan aflatoksin, sejenis mikotoksin yang beracun dan berbahaya bagi perkembangan janin.
Paparan mikotoksin selama kehamilan telah dikaitkan dengan cacat tabung saraf, gangguan fungsi hati, serta pertumbuhan janin yang tidak optimal. Sayangnya, kontaminasi ini sering tidak terlihat oleh mata dan sulit dihindari bila bahan dasar tape sudah tidak layak olah. Maka dari itu, kehati-hatian dalam memilih camilan fermentasi perlu menjadi perhatian serius bagi Mams yang sedang mengandung.
Efek Fermentasi terhadap Pencernaan Ibu Hamil
Selain kandungan alkohol dan mikroorganisme, tape juga bisa memicu ketidaknyamanan pada sistem pencernaan. Fermentasi menghasilkan gas dan senyawa kimia yang, jika masuk ke saluran cerna ibu hamil, dapat menyebabkan kembung, begah, atau bahkan mual yang lebih berat. Kondisi ini makin terasa bila Mams sedang berada di trimester pertama atau memiliki riwayat maag dan refluks.
Selama hamil, tubuh memproduksi lebih banyak hormon progesteron untuk menjaga kehamilan tetap stabil. Namun, hormon ini juga memperlambat pergerakan usus, sehingga makanan dan gas menetap lebih lama dalam saluran cerna. Makanan yang menghasilkan banyak gas, seperti tape, bisa memperparah kondisi tersebut.
Tak hanya gas, alkohol dalam tape juga dapat mengiritasi lambung jika dikonsumsi dalam kondisi perut kosong atau terlalu banyak. Kombinasi gas dan alkohol berpotensi menekan sfingter esofagus, memicu sensasi panas di dada atau heartburn. Oleh karena itu, menghindari tape saat hamil bisa menjadi keputusan yang tepat, terutama jika Mams sensitif terhadap gangguan lambung.
Jika Tetap Ingin Makan Tape, Ini Tips Aman untuk Mams
Sebenarnya tape bukan makanan yang harus dihindari secara total dalam segala kondisi, Mams. Tapi karena mengandung alkohol, bahkan dalam kadar kecil sekalipun, prinsip kehati-hatian tetap penting. Selain itu, tape yang dibuat tanpa standar kebersihan berisiko tinggi mengandung bakteri seperti Listeria dan E. coli.
Jika Mams masih ingin mencicipi tape, lakukan dengan cara yang lebih aman:
- Pastikan tape dipanaskan terlebih dahulu minimal hingga 65°C untuk mematikan mikroba.
- Pilihlah produk tape dari industri yang sudah bersertifikasi dan memiliki label resmi.
- Hindari tape buatan rumahan yang tidak jelas proses dan kebersihannya.
- Batasi jumlah konsumsinya, cukup sedikit saja, dan jangan jadikan sebagai camilan rutin. Apalagi jika Mams punya masalah pencernaan seperti maag atau refluks, sebaiknya konsultasikan ke dokter terlebih dulu.
Sebagai alternatif, pilih camilan sehat seperti pisang kukus, ubi rebus, atau yoghurt pasteurisasi yang lebih aman dan tetap memuaskan keinginan ngemil.
A Word From Navila
Jadi, bolehkah ibu hamil makan tape singkong? Jawabannya tidak disarankan ya, Mams. Tape memang lezat dan menggoda, apalagi jika sudah menjadi camilan favorit sejak lama. Namun, selama kehamilan, ada baiknya mempertimbangkan kembali setiap makanan yang dikonsumsi. Kandungan alkohol dari proses fermentasi, risiko kontaminasi mikroorganisme, serta efek samping pada pencernaan menjadikan tape sebagai camilan yang sebaiknya dibatasi, bahkan dihindari.
Menjaga kehamilan bukan berarti harus menahan semua keinginan, tapi lebih kepada memahami mana yang terbaik bagi tumbuh kembang si kecil. Bila Mams masih ragu dalam memilih makanan atau ingin tahu lebih jauh tentang kebutuhan nutrisi selama kehamilan, yuk, pelajari lebih lengkap di sini: Kebutuhan Nutrisi Ibu Hamil Trimester 1–2–3.
References
- Laili, S. N., Sudarti, S., & Prihandono, T. (2022). The Analysis of Alcohol Content in Cassava (Tape) Fermentation Process. Journal of Science and Science Education, 3(1), 17-21. https://jppipa.unram.ac.id/index.php/jossed/article/view/1340
- Seiler, N. K. (2016). Alcohol and pregnancy: CDC’s health advice and the legal rights of pregnant women. Public health reports, 131(4), 623-627. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0033354916662222
- CDC. About Alcohol Use During Pregnancy. Retrieved from https://www.cdc.gov/alcohol-pregnancy/about/index.html
- ACOG. Listeria and Pregnancy. Retrieved from https://www.acog.org/womens-health/faqs/listeria-and-pregnancy
- Ono, L. T., & Taniwaki, M. H. (2021). Fungi and mycotoxins in cassava (Manihot esculenta Crantz) and its products. Brazilian Journal of Food Technology, 24, e2020240. https://www.scielo.br/j/bjft/a/BMWL9mLKh7PsRdwVjNwxPBd/?format=html
- Verywell Health. 23 Foods That Help Reduce Bloating. Retrieved from https://www.verywellhealth.com/foods-to-reduce-bloating-8737345
- Cheng, J., & Ouwehand, A. C. (2020). Gastroesophageal reflux disease and probiotics: a systematic review. Nutrients, 12(1), 132. https://www.mdpi.com/2072-6643/12/1/132
- Rusdi, M. S., Novrianti, S., Hasanah, N., Efendi, M. R., & Armenia, A. (2023). Effect of fermented cassava (Manihot esculenta Crantz) on maternal development and fetal teratogenicity in mice (Mus musculus L.). Science, Engineering and Health Studies, 17. https://repository.unja.ac.id/59222/
- Castaño Frías, L., Tudela-Littleton Peralta, C., Segura Oliva, N., Suárez Arana, M., Cuenca Marín, C., & Jiménez López, J. S. (2024). Case Series of Listeria monocytogenes in Pregnancy: Maternal–Foetal Complications and Clinical Management in Six Cases. Microorganisms, 12(11), 2306. https://www.mdpi.com/2076-2607/12/11/2306