Tidak semua perubahan yang terjadi dalam tubuh wanita dapat langsung terlihat atau terasa. Salah satu sinyal yang sering kali terabaikan adalah siklus haid yang tiba-tiba berhenti. Mungkin Mams sempat berpikir bahwa hal ini wajar terjadi akibat stres, kelelahan, atau pola hidup yang berubah. Namun jika menstruasi tidak datang selama beberapa bulan tanpa adanya kehamilan, kondisi ini perlu diwaspadai.
Amenorea sekunder adalah kondisi ketika seorang wanita yang sebelumnya memiliki siklus haid teratur mengalami berhentinya menstruasi selama tiga bulan berturut-turut atau lebih. Bukan sekadar masalah datang bulan yang telat, kondisi ini bisa menjadi indikator adanya gangguan hormon, metabolisme, hingga masalah pada organ reproduksi. Penting bagi Mams untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh agar bisa mengambil langkah yang tepat.
Apa Itu Amenorea Sekunder dan Mengapa Bisa Terjadi?
Secara medis, amenorea sekunder adalah gejala dari gangguan kesehatan yang mendasari sistem reproduksi atau hormonal. Ini berbeda dari amenorea primer, yang terjadi ketika seorang gadis belum mengalami haid hingga usia 15 tahun. Pada amenorea sekunder, haid sempat berjalan normal, lalu berhenti dalam jangka waktu tertentu, dan bisa dialami oleh wanita usia subur maupun menjelang menopause.
Penyebabnya sangat bervariasi, mulai dari ketidakseimbangan hormon, gangguan pada sumbu hipotalamus-hipofisis-ovarium, hingga perubahan berat badan secara ekstrem. Bahkan penurunan berat badan sebesar 5–10% saja dapat memengaruhi kerja otak dalam mengirim sinyal ke indung telur. Selain itu, gangguan makan, stres kronis, olahraga berlebihan, gangguan tiroid, serta konsumsi obat atau kontrasepsi tertentu juga bisa memicu terjadinya amenorea.
Pada beberapa fase kehidupan, amenorea sekunder bisa terjadi secara fisiologis, seperti saat menyusui atau menjelang menopause. Namun jika berlangsung di luar kondisi tersebut, apalagi sampai melewati tiga bulan, sebaiknya segera konsultasi ke dokter. Pemeriksaan fisik, tes darah, hingga USG mungkin diperlukan untuk menelusuri penyebabnya. Penanganan yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu, bisa melalui perubahan gaya hidup, terapi nutrisi, hingga pengobatan hormonal jika memang diperlukan.
Apakah Amenorea Sekunder Berbahaya dan Bisa Sebabkan Kemandulan?
Mams, memahami bahwa amenorea sekunder adalah sinyal dari tubuh yang menandakan adanya ketidakseimbangan sangatlah penting. Ketika haid terhenti, biasanya ini berkaitan langsung dengan gangguan ovulasi. Tanpa proses ovulasi yang sehat, kehamilan pun menjadi sulit terjadi. Karena itu, kondisi ini perlu ditangani secara serius, apalagi bila Mams sedang dalam program hamil.
Lebih dari itu, kadar estrogen yang rendah akibat amenorea juga bisa berdampak pada kepadatan tulang, meningkatkan risiko osteoporosis dalam jangka panjang. Pada kasus yang disebabkan oleh gangguan makan seperti anoreksia, risiko gangguan jantung dan metabolisme juga meningkat. Maka dari itu, penting untuk tidak menganggap remeh haid yang berhenti dalam waktu lama.
Beberapa kondisi seperti PCOS atau menopause dini memang sering kali menjadi penyebab amenorea yang lebih kompleks. Menurut studi Human Reproduction, hampir 30% wanita dengan gangguan ovulasi mengalami amenorea sekunder sebagai gejala awal. Jika tidak ditangani, dampaknya bisa berujung pada infertilitas. Konsultasi dengan dokter kandungan menjadi langkah awal yang bijak agar penanganan bisa dilakukan sedini mungkin.
Bagaimana Peluang Hamil saat Mengalami Amenorea Sekunder?
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah masih bisa hamil jika mengalami amenorea sekunder? Jawabannya, masih bisa, Mams, selama penyebabnya diketahui dan ditangani dengan benar. Bila penyebabnya terkait gaya hidup seperti stres, olahraga berat, atau berat badan yang tidak ideal, perbaikan pola hidup sehat bisa menjadi solusi efektif untuk mengembalikan kesuburan secara alami.
Namun, jika penyebabnya lebih kompleks seperti PCOS atau gangguan hormon, maka terapi medis diperlukan. Obat pemicu ovulasi seperti clomiphene citrate atau letrozole biasanya menjadi pilihan awal. Pada beberapa kondisi, prosedur lanjutan seperti IVF (bayi tabung) bisa dipertimbangkan jika terapi awal tidak berhasil. Konsultasi dengan dokter spesialis kandungan atau endokrinologi reproduksi sangat dianjurkan agar terapi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan tubuh Mams.
Selain itu, dokter mungkin akan menyarankan pemeriksaan laboratorium dan pencitraan, seperti tes hormon (FSH, LH, prolaktin, estrogen) dan USG transvaginal untuk mengevaluasi kondisi indung telur. Terapi seperti pulsatile GnRH juga bisa digunakan pada amenorea hipotalamik, meskipun jarang digunakan, pendekatan ini terbukti efektif dalam beberapa studi klinis. Kuncinya adalah memahami bahwa harapan untuk hamil tetap terbuka jika penanganannya tepat dan menyeluruh.
Cara Mengatasi Amenorea Sekunder Berdasarkan Penyebabnya
Tidak semua kasus memerlukan obat. Jika amenorea sekunder adalah akibat stres berlebihan, olahraga berat, atau pola makan ekstrem, maka perbaikan gaya hidup bisa jadi solusi utama. Mengonsumsi makanan bergizi, tidur cukup, dan mengurangi beban aktivitas dapat membantu tubuh mengembalikan siklus haid secara alami.
Pada kasus seperti PCOS, dokter biasanya akan menyarankan terapi hormon seperti pil KB atau metformin. Obat ini bekerja untuk menyeimbangkan hormon sekaligus mengatur siklus haid. Bagi Mams yang sedang dalam program hamil, dokter mungkin akan memberikan obat pemicu ovulasi. Perlu diingat, penurunan berat badan meskipun hanya 5–10% juga dapat meningkatkan peluang ovulasi kembali secara alami.
Jika penyebabnya adalah kelainan pada kelenjar hipofisis seperti prolaktinoma, maka pengobatan akan difokuskan pada menurunkan kadar prolaktin melalui obat dopamin agonis seperti bromocriptine. Pemeriksaan lanjutan seperti MRI bisa dilakukan untuk memastikan diagnosis. Dalam kasus tertentu yang tidak merespons obat, tindakan operasi bisa menjadi pilihan. Karena penyebabnya sangat beragam, pendekatan yang diberikan harus disesuaikan secara personal oleh dokter spesialis.
A Word From Navila
Mams, amenorea sekunder adalah salah satu cara tubuh memberi sinyal bahwa ada yang perlu diperhatikan lebih dalam. Haid yang tidak kunjung datang bukan sekadar soal keterlambatan, melainkan bisa menjadi indikator penting tentang keseimbangan hormon, pola makan, hingga potensi kehamilan.
Jadi, jika Mams mengalami perubahan pada siklus haid, jangan anggap remeh. Tubuh kita memiliki cara tersendiri untuk berbicara, dan tugas kita adalah mendengarkan dengan cermat. Jika ragu apakah itu hanya gangguan siklus biasa atau tanda awal kehamilan, yuk pelajari lebih lanjut di: Apa saja Perbedaan Nyeri Perut Haid dan Hamil?
References
- Cleveland Clinic. Hypothalamic Amenorrhea. Retrieved from https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24431-hypothalamic-amenorrhea
- Verywell Minda. Eating Disorders and Hypothalamic Amenorrhea. Retrieved from https://www.verywellmind.com/hypothalamic-amenorrhea-4687508
- Klein, D. A., Paradise, S. L., & Reeder, R. M. (2019). Amenorrhea: a systematic approach to diagnosis and management. American family physician, 100(1), 39-48. https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2019/0701/p39.html
- Miller, K. K., & Klibanski, A. (1999). Amenorrheic bone loss. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 84(6), 1775-1783. https://academic.oup.com/jcem/article-abstract/84/6/1775/2864158
- Roberts, R. E., Farahani, L., Webber, L., & Jayasena, C. (2020). Current understanding of hypothalamic amenorrhoea. Therapeutic advances in endocrinology and metabolism, 11, 2042018820945854. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/2042018820945854
- De Souza, M. J., Toombs, R. J., Scheid, J. L., O’Donnell, E., West, S. L., & Williams, N. I. (2010). High prevalence of subtle and severe menstrual disturbances in exercising women: confirmation using daily hormone measures. Human reproduction, 25(2), 491-503. https://academic.oup.com/humrep/article-abstract/25/2/491/674505
- Dobranowska, K., Plińska, S., & Dobosz, A. (2024). Dietary and Lifestyle Management of Functional Hypothalamic Amenorrhea: A Comprehensive Review. Nutrients, 16(17), 2967. https://www.mdpi.com/2072-6643/16/17/2967?ref=popsugar.com&=___psv__p_49404964__t_w__r_seemashahrd.com%2F_