Kehamilan kembar tentu membawa kebahagiaan ganda bagi banyak orang tua. Dua detak jantung yang tumbuh bersamaan di dalam rahim menjadi simbol kehidupan baru yang membahagiakan. Namun, Mams perlu tahu bahwa kehamilan kembar juga bisa disertai risiko yang lebih tinggi dibanding kehamilan tunggal, terutama bila janin berbagi satu plasenta. Salah satu kondisi yang patut diwaspadai adalah Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS), sebuah komplikasi serius yang dapat mengganggu keseimbangan pertumbuhan janin kembar identik.
TTTS terjadi ketika aliran darah antara dua janin tidak seimbang akibat adanya sambungan pembuluh darah di dalam satu plasenta. Satu janin bertindak sebagai “donor” dan kehilangan sebagian suplai darahnya, sedangkan janin lainnya menjadi “resipien” yang menerima kelebihan darah. Ketidakseimbangan ini bisa menimbulkan berbagai komplikasi, dari gangguan pertumbuhan hingga risiko kematian janin, jika tidak dikenali dan ditangani dengan cepat. Lalu, apa sebenarnya penyebab kondisi ini, dan bagaimana Mams bisa mengenalinya sejak awal?
Apa Itu Twin to Twin Syndrome dan Mengapa Hanya Terjadi pada Kembar Identik?
Twin to Twin Transfusion Syndrome (TTTS) adalah komplikasi yang hanya terjadi pada kehamilan kembar identik yang berbagi satu plasenta, atau dikenal sebagai kehamilan monochorionic diamniotic (MCDA). Dalam jenis kehamilan ini, dua janin berkembang di dalam dua kantung ketuban yang berbeda, tetapi menerima nutrisi dari satu plasenta yang sama. Di sinilah masalah dapat muncul. Jika terdapat koneksi pembuluh darah antar janin yang tidak seimbang, suplai darah bisa tertukar dan menimbulkan risiko serius bagi keduanya.
Berbeda dengan kembar non-identik yang masing-masing memiliki plasenta sendiri (dichorionic), kembar MCDA berisiko mengalami TTTS karena adanya sambungan pembuluh darah yang menghubungkan kedua sirkulasi janin. Karena itulah, jenis plasenta menjadi faktor penting yang harus diketahui sejak dini. Pemeriksaan USG pada trimester pertama dapat membantu dokter memastikan apakah kehamilan termasuk MCDA atau tidak, dan apakah diperlukan pemantauan khusus.
Kondisi TTTS umumnya berkembang pada trimester kedua, tepatnya antara minggu ke-16 hingga minggu ke-26. Pada masa inilah koneksi pembuluh darah mulai berdampak besar pada keseimbangan cairan dan pertumbuhan janin. Menurut Children’s Hospital of Philadelphia, sekitar 10–15% kehamilan kembar identik yang berbagi plasenta dapat mengalami TTTS. Angka ini cukup tinggi, sehingga deteksi dini sangat disarankan untuk mencegah komplikasi lanjutan.
Penyebab dan Mekanisme TTTS
Berbeda dengan kelainan genetik, TTTS tidak disebabkan oleh faktor keturunan, melainkan oleh cara plasenta terbentuk saat masa awal kehamilan. Ketika dua janin berbagi satu plasenta, bisa terbentuk saluran pembuluh darah (disebut anastomosis) yang menghubungkan sistem sirkulasi darah keduanya. Masalah terjadi ketika aliran darah dari janin donor mengalir terlalu banyak ke janin resipien. Ketidakseimbangan ini menjadi pemicu utama munculnya TTTS.
Dampaknya sangat signifikan bagi kedua janin. Janin donor mengalami kekurangan darah, nutrisi, dan cairan ketuban. Produksi urinnya menurun drastis, sehingga kantung ketuban menjadi sangat kecil (oligohidramnion). Di sisi lain, janin resipien menerima terlalu banyak darah sehingga jantungnya harus bekerja ekstra. Jika tidak ditangani, janin ini bisa mengalami pembengkakan tubuh (hydrops fetalis) dan kelebihan cairan ketuban (polyhydramnion), yang berisiko tinggi menyebabkan gagal jantung janin.
Selain TTTS, kehamilan MCDA juga berisiko mengalami komplikasi lain seperti TAPS dan TRAP Sequence. TAPS adalah ketidakseimbangan kadar hemoglobin antar janin tanpa perubahan cairan ketuban. Sementara TRAP Sequence terjadi saat janin sehat harus menyuplai darah ke janin tanpa jantung (acardiac). Ketiga kondisi ini sama-sama berbahaya dan tidak dapat dicegah sepenuhnya, sehingga pemeriksaan serial dengan USG menjadi kunci penting untuk menjaga keselamatan janin.
Gejala TTTS yang Bisa Dideteksi dari Perut Ibu hingga USG Janin
Gejala TTTS biasanya mulai terasa lewat perubahan fisik yang dialami Ibu. Salah satu tanda awal adalah perut yang membesar dengan cepat, melebihi ukuran yang seharusnya sesuai usia kehamilan. Ini disebabkan oleh penumpukan cairan ketuban berlebihan pada janin resipien. Akibatnya, Mams bisa merasa sesak napas, nyeri panggul, atau tekanan perut yang tidak biasa. Beberapa Ibu bahkan mengalami kontraksi dini atau rasa tidak nyaman yang menetap.
Selain dari kondisi fisik, aktivitas janin juga bisa memberikan petunjuk penting. Gerakan janin donor sering kali melemah karena kekurangan darah dan cairan. Sebaliknya, janin resipien mungkin tampak lebih aktif, tetapi kondisi jantungnya sebenarnya sedang tertekan. Jika Mams merasakan gerakan janin yang tidak seimbang, misalnya, satu janin sangat aktif sementara yang lain jarang bergerak, ini patut diperiksa lebih lanjut oleh dokter.
USG merupakan metode paling akurat untuk mendeteksi TTTS. Dokter akan mengamati perbedaan ukuran janin, volume cairan ketuban, serta kondisi kandung kemih janin donor. Jika kandung kemih tidak terlihat, itu bisa menjadi tanda produksi urin menurun drastis. Sementara itu, janin resipien dapat terlihat mengalami pembengkakan akibat kelebihan cairan. USG Doppler dan fetal echocardiography penting dilakukan secara berkala sejak usia kehamilan 16 minggu. Idealnya, pemeriksaan ini dilakukan setiap dua minggu untuk memantau kondisi janin secara menyeluruh.
Haruskah Khawatir Jika Mengandung Kembar Dua Kantong?
Tidak sedikit Ibu yang merasa lega saat diberi tahu bahwa janin kembarnya berada di dua kantung ketuban. Namun, penting untuk dipahami bahwa yang paling menentukan risiko TTTS bukan jumlah kantung ketuban, melainkan jumlah plasenta. Kehamilan kembar dua kantong bisa saja berbagi satu plasenta, yaitu jenis monochorionic diamniotic (MCDA), dan ini tetap berisiko TTTS.
Dalam kehamilan MCDA, walaupun masing-masing janin berada di kantung yang berbeda, mereka masih berbagi satu sistem suplai darah dari satu plasenta. Ketidakseimbangan suplai darah karena adanya sambungan pembuluh bisa tetap terjadi. Maka dari itu, Mams perlu melakukan pemeriksaan jenis plasenta sejak trimester pertama, idealnya antara minggu ke-10 hingga ke-14, untuk mengetahui secara pasti apakah ada risiko TTTS.
Jika TTTS terdiagnosis, dokter akan menilai tingkat keparahannya berdasarkan skala tertentu. Penanganan yang umum dilakukan meliputi amnioreduksi (pengeluaran cairan ketuban berlebih) atau prosedur laser fetoscopy untuk menutup sambungan pembuluh darah yang abnormal. Setelah prosedur, Mams akan dimonitor secara ketat hingga persalinan. Terkadang, persalinan lebih dini perlu dilakukan demi menyelamatkan kedua janin. Maka, semakin awal kondisi ini terdeteksi, semakin besar peluang penanganan yang sukses.
A Word From Navila
Mengandung bayi kembar memang membutuhkan perhatian ekstra, baik secara fisik maupun emosional. Seiring dengan berkembangnya dua janin, tubuh Ibu pun mengalami perubahan lebih cepat. Rasa pegal, kulit perut yang cepat meregang, hingga area payudara yang terasa lebih sensitif adalah hal yang wajar terjadi. Namun, mengenali dan merawat perubahan ini sejak dini dapat membantu Mams menjalani kehamilan dengan lebih nyaman dan percaya diri.

Salah satu langkah perawatan yang bisa Mams lakukan adalah menjaga kesehatan dan elastisitas kulit. Navila Stretch Mark Cream diformulasikan khusus dengan bahan alami yang lembut di kulit, membantu mencegah stretch mark serta meredakan rasa gatal akibat peregangan perut. Yuk, pelajari cara merawat tubuh selama kehamilan kembar dan temukan manfaat lengkapnya di: Navila Stretch Mark Cream.
References
- Children’s Hospital of Philadelphia. Twin-Twin Transfusion Syndrome (TTTS). Retrieved from https://www.chop.edu/conditions-diseases/twin-twin-transfusion-syndrome-ttts
- Miller, J. L. (2021). Twin to twin transfusion syndrome. Translational Pediatrics, 10(5), 1518. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8193008/
- Khalil, A., Gordijn, S., Ganzevoort, W., Thilaganathan, B., Johnson, A., Baschat, A. A., … & Lopriore, E. (2020). Consensus diagnostic criteria and monitoring of twin anemia–polycythemia sequence: Delphi procedure. Ultrasound in Obstetrics & Gynecology, 56(3), 388-394. https://obgyn.onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/uog.21882
- Mott Children’s Hospital. Twin-to-twin transfusion syndrome. Retrieved from https://www.mottchildren.org/conditions-treatments/peds-fetal-medicine/twin-twin-transfusion-syndrome
- NHS. Antenatal care with twins. Retrieved from https://www.nhs.uk/pregnancy/your-pregnancy-care/antenatal-care-with-twins/