Setelah Generasi Alpha, siapa yang akan lahir berikutnya? Jawabannya adalah Generasi Beta, kelompok yang diprediksi lahir mulai tahun 2025 dan tumbuh di dunia yang serba terdigitalisasi, otomatis, serta dipengaruhi berbagai isu global. Sejak awal kehidupannya, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan bagian dari sistem yang membentuk cara belajar, berinteraksi, dan mengambil keputusan. Dalam konteks ini, generasi beta adalah gambaran masa depan yang menuntut kesiapan pengasuhan sejak dini.
Memahami Generasi Beta bukan hanya soal mengenal rentang tahun kelahiran, tetapi tentang membaca dunia tempat ia akan tumbuh. Dunia yang bergerak cepat ini menuntut kemampuan adaptasi, ketahanan emosional, dan pemaknaan hidup yang kuat. Karena itu, pembahasan ini mengajak Mams melihat kembali pola asuh masa depan agar tetap relevan, manusiawi, dan mampu mendampingi Si Kecil tumbuh optimal di tengah kemajuan teknologi.
Apa Itu Generasi Beta?
Secara umum, generasi beta adalah kelompok yang lahir setelah Generasi Alpha, diperkirakan mulai 2025 hingga sekitar 2039. Namun pembeda utamanya bukan hanya soal rentang waktu. Ia tumbuh di dalam ekosistem dunia yang sudah sepenuhnya terdigitalisasi, di mana teknologi tidak lagi “dipelajari”, melainkan menjadi lingkungan hidup sehari-hari. Karena itu, Generasi Beta lebih tepat dipahami sebagai hasil dari sistem global yang saling terhubung.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang masih beradaptasi dengan teknologi, Si Kecil di generasi ini hidup langsung di dalam sistem tersebut. Kecerdasan buatan, otomatisasi, dan data akan hadir sejak awal kehidupan. Teknologi bukan hanya membantu, tetapi ikut membentuk cara belajar, bermain, dan berinteraksi. Dunia digital dan dunia nyata berjalan berdampingan, tanpa batas yang tegas.
Selain itu, Generasi Beta lahir di tengah kompleksitas global. Isu lingkungan, ketidakpastian ekonomi, dan perubahan sosial menjadi latar yang akrab sejak dini. Informasi tersedia melimpah, tetapi sering kali bercampur dengan distraksi dan bias. Kondisi ini membuat generasi beta adalah generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga hidup berdampingan dengan sistem yang “berpikir” dan memengaruhi banyak keputusan sehari-hari.
Dunia Tempat Generasi Beta Tumbuh
Mams, dunia tempat Generasi Beta tumbuh akan sangat akrab dengan kecerdasan buatan. AI hadir sebagai pendamping belajar, pemberi rekomendasi, bahkan pengatur rutinitas. Proses belajar menjadi lebih cepat dan personal. Namun, kemudahan ini juga membawa tantangan, karena Si Kecil bisa terbiasa menerima jawaban instan tanpa proses berpikir mendalam. Di sinilah peran orang tua menjadi penting sebagai penyeimbang.
Di sisi lain, banjir informasi menjadi realitas harian. Akses pengetahuan nyaris tanpa batas, tetapi tidak selalu bermakna. Tantangan utamanya bukan lagi mencari informasi, melainkan memilah mana yang relevan dan dapat dipercaya. Tanpa pendampingan, ia bisa tahu banyak hal, tetapi kesulitan memahami maknanya secara utuh. Kondisi ini menegaskan kembali bahwa generasi beta adalah generasi yang membutuhkan bimbingan, bukan pembatasan semata.
Perubahan dunia pendidikan dan kerja juga menambah kompleksitas. Banyak peran masa depan belum ada hari ini, sementara keterampilan yang dibutuhkan terus bergeser. Si Kecil berpotensi sangat cakap secara teknis sejak dini. Namun tanpa fondasi emosional yang kuat, ia bisa lebih rentan terhadap stres dan kehilangan arah. Kecerdasan teknologi perlu berjalan seiring dengan kemampuan mengelola diri dan relasi.
Tantangan Pola Asuh di Era Generasi Beta
Pola asuh tradisional yang menekankan kepatuhan lahir dari dunia yang relatif stabil. Sementara itu, Generasi Beta tumbuh di lingkungan yang cepat berubah dan minim kepastian. Di dunia seperti ini, kemampuan mengikuti aturan saja tidak cukup. Ia perlu belajar memahami konteks, mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan situasi baru. Tanpa bekal tersebut, kebingungan mudah muncul saat menghadapi masalah yang tidak memiliki jawaban tunggal.
Tantangan lain yang sering dirasakan orang tua adalah keseimbangan antara penggunaan layar dan pengalaman nyata. Layar memang membuka akses belajar, tetapi penggunaan berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial dan kemampuan mengelola emosi. Di sisi lain, terlalu membatasi justru membuat Si Kecil tidak belajar menyaring informasi secara mandiri. Ketegangan ini wajar, dan membutuhkan pendekatan yang fleksibel, bukan hitam-putih.
Karena itu, generasi beta adalah generasi yang membutuhkan orang tua dengan pola pikir adaptif. Peran Mams bergeser dari pengendali penuh menjadi pendamping yang hadir, responsif, dan mau belajar bersama. Orang tua membantu memahami dunia, bukan sekadar melindungi dari dunia. Pendekatan ini memberi ruang bagi proses mencoba, gagal, dan bertumbuh secara sehat.
Fondasi Pengasuhan yang Relevan
Fondasi pertama adalah kemampuan mengenali dan mengelola emosi. Si Kecil yang terbiasa memahami perasaannya sendiri cenderung lebih tangguh saat menghadapi perubahan. Dunia yang serba cepat dan penuh tekanan membuat keterampilan ini semakin penting. Kecerdasan emosi menjadi penopang utama agar ia tetap seimbang, bukan mudah kewalahan.
Fondasi berikutnya adalah kemampuan berpikir kritis di tengah algoritma. Di era personalisasi teknologi, banyak informasi sudah “dipilihkan” sistem. Pola asuh perlu membiasakan Si Kecil untuk bertanya, membandingkan sudut pandang, dan memahami konteks. Tujuannya bukan menjauhkan dari teknologi, melainkan membentuk kendali diri saat menggunakannya.
Fondasi terakhir adalah keterampilan kemanusiaan seperti empati, kolaborasi, dan pencarian makna. Ketika mesin semakin cerdas, kualitas inilah yang membuat manusia tetap relevan. Belajar bekerja sama, memahami perasaan orang lain, dan merasa berarti dalam perannya adalah bekal jangka panjang yang tidak tergantikan. Pada akhirnya, pengasuhan Generasi Beta bukan soal menjadi paling cepat, tetapi tetap utuh sebagai manusia.
A Word From Navila
Mams, memahami Generasi Beta berarti menyadari bahwa Si Kecil tumbuh di dunia yang menawarkan perubahan, bukan kepastian. Generasi beta adalah generasi yang sejak awal hidup berdampingan dengan teknologi dan kompleksitas global yang membentuk cara belajar serta memandang realitas. Tantangan orang tua bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi menyiapkan fondasi nilai, emosi, dan makna agar ia tetap punya arah.
Di masa depan, keberhasilan pengasuhan tidak diukur dari seberapa cepat keterampilan teknis dikuasai, melainkan seberapa kuat ia mengenal dirinya dan berelasi dengan dunia. Ketika teknologi terus melaju, nilai-nilai kemanusiaan menjadi jangkar terpenting. Untuk melengkapi pemahaman ini, Mams juga bisa menengok Generasi Alpha sebagai jembatan menuju dunia Generasi Beta. Gambaran tentang bahasa, pola komunikasi, dan lingkungan digital mereka dapat membantu menyiapkan pengasuhan yang lebih berkelanjutan. Selengkapnya dapat dibaca di: Bahasa Gen Alpha.
References
- Investopedia. What Is Generation Alpha? Retrieved from https://www.investopedia.com/generation-alpha-definition-8606114
- Axios. Meet Gen Beta, starting to be born in 2025. Retrieved from https://www.axios.com/2025/01/01/generation-beta-born-2025-2039
- Rahdari, A. (2025). Growing Up With AI: Redefining Responsible AI for Children of Generation Beta in the Majority World.
- Pew Research Center. Parenting Children in the Age of Screens. Retrieved from https://www.pewresearch.org/internet/2020/07/28/parenting-children-in-the-age-of-screens/
- Muppalla, S. K., Vuppalapati, S., Pulliahgaru, A. R., Sreenivasulu, H., & kumar Muppalla, S. (2023). Effects of excessive screen time on child development: an updated review and strategies for management. Cureus, 15(6).
- Palma-Luengo, M., Martin, N. L. S., & Ossa-Cornejo, C. (2025). Emotional Intelligence and Critical Thinking: Relevant Factors for Training Future Teachers in a Chilean Pedagogy Program. Journal of Intelligence, 13(2), 17.





