Malam hari yang seharusnya jadi waktu istirahat justru bisa berubah menjadi penuh kepanikan saat si kecil tiba-tiba demam. Tubuhnya terasa panas, wajahnya memerah, dan dia terus menangis tanpa sebab yang jelas. Situasi ini sering membuat Mams khawatir, apalagi jika terjadi saat layanan kesehatan sulit diakses. Meski umumnya demam adalah tanda tubuh sedang melawan infeksi, penting untuk tahu langkah pertama yang bisa dilakukan di rumah dengan aman.

Salah satu pendekatan yang banyak digunakan adalah cara tradisional, metode alami yang diwariskan turun-temurun dan masih relevan hingga kini. Artikel ini akan membahas berbagai cara tradisional untuk meredakan demam anak di malam hari, alasan mengapa demam sering terjadi saat malam, serta tanda bahaya yang perlu Mams perhatikan agar tidak terlambat mendapatkan penanganan medis.

Mengapa Anak Sering Demam di Malam Hari dan Perlukah Khawatir?

Mams mungkin pernah bertanya-tanya, mengapa demam anak cenderung memburuk saat malam? Jawabannya berkaitan dengan ritme sirkadian tubuh, yaitu jam biologis yang mengatur suhu inti selama 24 jam. Di malam hari, suhu tubuh anak memang secara alami lebih tinggi, dan sistem imun juga bekerja lebih aktif karena kadar hormon antiradang menurun. Proses inilah yang membuat gejala demam bisa terasa lebih menonjol.

American Academy of Pediatrics mencatat bahwa suhu tubuh anak bisa berubah sepanjang hari, dan naik mendekati 37,5°C saat sore atau malam. Peningkatan suhu di malam hari belum tentu menandakan infeksi serius. Namun, jika suhu mencapai 38°C atau lebih dan disertai gejala seperti lemas atau sulit makan, kondisi ini perlu diwaspadai. Khusus untuk bayi di bawah 3 bulan, suhu ≥38°C harus segera dikonsultasikan ke dokter karena berisiko tinggi terhadap infeksi serius.

Meskipun demam sering membuat Mams panik, perlu diingat bahwa demam adalah respons alami tubuh untuk melawan kuman. Bila anak masih aktif, cukup minum, dan tampak nyaman, Mams bisa mengamati dulu kondisinya sambil melakukan penanganan ringan. Namun, jika suhu mencapai ≥40°C, berlangsung lebih dari dua hari, atau disertai gejala berat, sebaiknya segera cari pertolongan medis.

Cara Tradisional yang Bisa Dicoba di Rumah Saat Anak Demam

Berikut beberapa cara tradisional yang bisa Mams coba di rumah untuk membantu meredakan demam si kecil, di antaranya:

1. Kompres Hangat untuk Turunkan Suhu dengan Lembut

Alih-alih menggunakan kompres dingin yang bisa menyebabkan menggigil, Mams bisa memilih kompres hangat sebagai langkah awal. Kompres hangat bekerja membantu tubuh melepas panas secara alami. Cukup gunakan kain bersih yang direndam air suam-suam kuku, lalu letakkan di dahi, leher, atau lipatan tubuh anak selama 10–15 menit sambil terus memantau kenyamanan si kecil.

2. Olesan Bawang Merah dan Minyak Telon

Campuran bawang merah dengan minyak telon atau minyak kayu putih sering digunakan untuk meredakan demam, karena dipercaya membantu sirkulasi darah dan memberikan efek hangat. Namun, Mams perlu berhati-hati, terutama pada bayi dengan kulit sensitif. Sebelum digunakan, uji coba dulu di kulit bagian dalam lengan anak untuk memastikan tidak menimbulkan iritasi.

3. Minuman Alami untuk Anak Usia >1 Tahun

Untuk anak usia di atas satu tahun, Mams bisa memberikan air kelapa, jahe hangat, atau lemon hangat sebagai dukungan hidrasi dan imun tubuh. Air kelapa kaya elektrolit, jahe bersifat hangat dan antiperadangan, sementara lemon mengandung vitamin C. Sajikan dalam suhu hangat dan tanpa pemanis buatan agar tetap aman bagi si kecil.

4. Pakaian Tipis dan Ruangan Sejuk untuk Memaksimalkan Pengeluaran Panas

Jangan lupa untuk memakaikan anak pakaian tipis dan menyerap keringat saat demam. Ventilasi ruangan yang baik juga membantu tubuh membuang panas secara alami. Hindari selimut tebal atau pakaian berlapis yang justru menahan panas dan memperburuk kondisi anak.

5. Perhatian Khusus untuk Bayi di Bawah 6 Bulan

Pada bayi di bawah 6 bulan, Mams disarankan tidak memberikan pengobatan rumahan tanpa pengawasan dokter. Sistem tubuh bayi pada usia ini masih sangat sensitif, sehingga demam ≥38°C sudah cukup menjadi alasan untuk segera berkonsultasi. WHO dan IDAI menegaskan bahwa pendekatan alami hanya boleh menjadi pelengkap, bukan pengganti pengobatan medis.

Tanda-Tanda Anak Perlu Segera Dibawa ke Dokter

Tak semua demam bisa ditangani di rumah. Jika bayi berusia di bawah 3 bulan mengalami demam ≥38°C, Mams harus segera membawanya ke fasilitas kesehatan. Untuk anak yang lebih besar, demam ≥39°C yang tak kunjung reda lebih dari dua hari juga perlu diwaspadai. Terlebih bila disertai muntah terus-menerus, tampak sangat lemas, sulit minum, atau muncul ruam luas.

Tanda bahaya lainnya termasuk sesak napas, kejang, anak tak responsif, atau terlihat sangat mengantuk dan sulit dibangunkan. Kejang demam yang berlangsung lebih dari 5 menit atau terjadi berulang kali dalam 24 jam termasuk dalam kategori kejang demam kompleks, yang memerlukan penanganan segera. Bila menghadapi situasi ini, tetap tenang dan bawa anak ke dokter sesegera mungkin.

Cara Menenangkan Anak Saat Demam tanpa Obat

Selain perawatan fisik, dukungan emosional dari Mams punya dampak besar pada pemulihan anak. Sentuhan lembut, pelukan hangat, dan keberadaan Mams bisa menenangkan anak yang rewel karena demam. Penelitian Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health membuktikan bahwa sentuhan penuh kasih dapat menurunkan stres dan membantu tubuh anak bekerja lebih efektif dalam melawan infeksi.

Beberapa cara yang bisa Mams lakukan:

  • Ciptakan suasana yang tenang dan nyaman di rumah. 
  • Matikan lampu terang, kurangi suara bising, dan hindari aktivitas berlebihan di sekitar anak. 
  • Jika memungkinkan, putar musik lembut atau dongengkan cerita untuk membantu anak tertidur. 
  • Hindari memaksa anak makan saat dia kehilangan nafsu makan. 
  • Fokus pada pemberian cairan dan makanan lembut yang mudah dicerna.

A Word From Navila

Demam malam hari pada anak memang mengkhawatirkan, tapi Mams tak perlu langsung panik. Dengan pendekatan tradisional yang tepat, demam ringan dapat diredakan dengan aman di rumah. Kunci utamanya adalah ketenangan dan kepekaan dalam mengenali tanda bahaya.

Minyak Telon Navila dan Minyak Kayu Putih Navila

Sebagai pelengkap perawatan alami di rumah, Mams bisa menggunakan Minyak Telon Navila atau Minyak Kayu Putih Navila yang lembut di kulit dan memberikan kehangatan alami. Kandungannya membantu meredakan ketidaknyamanan seperti perut kembung dan menggigil, sekaligus menenangkan anak saat beristirahat. Yuk, dampingi si kecil dengan kasih sayang dan perhatian penuh, agar ia lekas pulih dan kembali ceria.


References

  • Kasbekar, R., Naz, A., Marcos, L., Liu, Y., Hendrickson, K., Gorsich, J. C., & Baun, M. (2021). Threshold for defining fever varies with age, especially in children: A multi‐site diagnostic accuracy study. Nursing Open, 8(5), 2705-2721. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/nop2.831
  • Leduc, D., Woods, S., & Community Paediatrics Committee. (2000). Temperature measurement in paediatrics. Paediatrics & Child Health, 5(5), 273-276. https://academic.oup.com/pch/article-abstract/5/5/273/2655772
  • Boston Children’s Hospitals. What is a fever? Retrieved from https://www.childrenshospital.org/conditions/fever
  • Medline Plus. When your baby or infant has a fever. Retrieved from https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000319.htm
  • Souza, M. V. D., Souza, D. M. D., Damião, E. B. C., Buchhorn, S. M. M., Rossato, L. M., & Salvetti, M. D. G. (2022). Effectiveness of warm compresses in reducing the temperature of febrile children: A pilot randomized clinical trial. Revista da Escola de Enfermagem da USP, 56, e20220168.
  • Rao, S. S., & Najam, R. (2016). Coconut water of different maturity stages ameliorates inflammatory processes in model of inflammation. Journal of intercultural ethnopharmacology, 5(3), 244.
  • Hopkins Medicine. Fever in Children. Retrieved from https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/fever-in-children
  • Clinch, J., & Dale, S. (2007). Managing childhood fever and pain–the comfort loop. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 1(1), 7. https://link.springer.com/article/10.1186/1753-2000-1-7