Pernah merasa harus terus meludah saat hamil, seolah-olah mulut tak henti memproduksi air liur? Tenang, Mams tidak sendiri. Kondisi ini dikenal sebagai hipersalivasi, yaitu pengalaman produksi air liur berlebih saat hamil. Meski terdengar sepele, gejala ini bisa sangat mengganggu aktivitas dan kenyamanan sehari-hari.
Banyak yang mengira penyebabnya hanya hormon, padahal ada faktor lain yang ikut berperan. Yuk, kenali lebih dalam apakah hipersalivasi itu normal, berbahaya, dan bagaimana cara mengatasinya secara holistik.
Penyebab Hipersalivasi saat Hamil
Hipersalivasi saat hamil bukan sekadar efek hormonal biasa. Lonjakan hormon estrogen dan hCG di awal kehamilan merangsang kelenjar ludah bekerja lebih aktif. Sistem saraf otonom juga ikut terpengaruh, sehingga produksi air liur meningkat drastis. Ini biasanya terjadi di minggu ke-4 hingga ke-8 dan bisa mencapai dua kali lipat dari volume normal.
Namun, bukan hormon saja penyebabnya. Gangguan seperti GERD membuat tubuh memproduksi lebih banyak air liur untuk menetralkan asam lambung. Mual parah dan kesulitan menelan juga menyebabkan air liur menumpuk di mulut. Infeksi gusi dan sariawan pun bisa memicu kelenjar ludah jadi lebih aktif.
Menariknya, hipersalivasi sering muncul bersamaan dengan hiperemesis gravidarum (mual muntah ekstrem). Bahkan, menurut The Israel Medical Association Journal sekitar 40% ibu hamil dengan hipersalivasi juga mengalami hiperemesis. Ini membuat hipersalivasi bisa menjadi penanda keparahan morning sickness. Meskipun mengganggu, kondisi ini umumnya tidak berbahaya dan membaik saat memasuki trimester kedua.
Kapan Air Liur Berlebih Menjadi Masalah Serius?
Hipersalivasi saat hamil umumnya tidak membahayakan janin, tapi bisa menjadi masalah serius jika sudah mengganggu keseharian ibu. Kondisi ini perlu diwaspadai bila disertai mual hebat hingga menyebabkan berat badan turun drastis dan ibu sulit makan. Kehilangan cairan akibat meludah terus-menerus juga bisa memicu dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. Jika dibiarkan, hal ini berisiko menurunkan daya tahan tubuh dan menambah kelelahan fisik.
Selain fisik, hipersalivasi berat juga bisa memengaruhi kondisi mental ibu. Rasa tidak nyaman, sulit tidur, dan stres karena harus sering meludah bisa membuat ibu mengalami gangguan emosional hingga gejala depresi ringan. Dalam kasus yang berat, dokter bisa meresepkan obat antikolinergik atau antiemetik untuk membantu mengurangi produksi air liur. Tapi obat ini hanya digunakan jika gejalanya benar-benar parah dan sudah memengaruhi kesehatan ibu secara menyeluruh.
Mengapa Hipersalivasi Tidak Dialami Semua Ibu Hamil?
Tidak semua ibu hamil mengalami hipersalivasi karena kondisi ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan sensitivitas individu. Wanita dengan riwayat keluarga yang mengalami hipersalivasi atau hyperemesis gravidarum (mual muntah berat) punya risiko lebih tinggi. Begitu juga ibu hamil anak kembar, karena hormon kehamilannya cenderung lebih tinggi. Hormon seperti hCG dan estrogen yang meningkat tajam dapat merangsang produksi air liur berlebih.
Selain itu, kondisi tubuh dan psikologis juga ikut memengaruhi. Ibu yang lebih sensitif terhadap bau dan rasa, sedang stres, atau kurang minum cenderung lebih mudah mengalami hipersalivasi. Meski tidak berbahaya, gejala ini bisa mengganggu kenyamanan jika tidak ditangani. Dengan mengenali faktor-faktornya, ibu hamil bisa lebih siap mengelola gejalanya sejak awal.
Cara Mengatasi Hipersalivasi secara Holistik dari Nutrisi hingga Mindset
Mengelola hipersalivasi saat hamil tidak cukup hanya dengan sering meludah atau mengunyah permen. Pendekatan holistik bisa jauh lebih efektif karena menyentuh penyebab dari berbagai sisi, mulai dari pola makan, hidrasi, hingga kondisi psikologis ibu. Air liur berlebih dipengaruhi oleh perubahan hormon, stres, dan kondisi mulut selama hamil. Maka, penting bagi ibu hamil untuk melakukan penyesuaian kecil yang berdampak besar.
Berikut beberapa cara holistik yang bisa dicoba:
- Minum air sedikit-sedikit tapi sering, hindari minum sekaligus banyak.
- Konsumsi buah asam (jeruk, kiwi), makanan renyah (apel, wortel), dan tinggi protein untuk membantu menyeimbangkan produksi saliva.
- Latih mindfulness atau teknik pernapasan, karena stres bisa memperburuk produksi air liur.
- Jaga kebersihan mulut secara rutin, sikat gigi dua kali sehari dan berkumur dengan air garam atau baking soda.
A Word From Navila
Hipersalivasi atau pengalaman air liur berlebih saat hamil memang bisa terasa mengganggu, tapi umumnya tidak berbahaya dan bisa dikelola dengan pendekatan yang tepat. Dengan memahami penyebab dan cara mengatasinya dari sisi fisik maupun emosional, ibu hamil bisa tetap merasa nyaman selama masa kehamilan. Ingat, setiap tubuh bereaksi berbeda, jadi penting untuk mengenali sinyal tubuh sendiri dan mencari solusi yang paling cocok. Jika gejalanya semakin parah atau mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk berkonsultasi ke dokter.
Selain hipersalivasi, ibu hamil juga sering mengalami berbagai masalah kulit yang tak kalah mengganggu. Untuk tahu cara mengatasinya dengan aman dan alami, kunjungi: Tips untuk Mengatasi Masalah Kulit yang Sering Dialami Ibu Hamil.
References
- Morton, A., & He, J. W. (2025). Ptyalism gravidarum. Obstetric Medicine, 18(2), 69-74. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1753495X241290668
- Naveen, S., Asha, M. L., Shubha, G., Bajoria, A. A., & Jose, A. A. (2014). Salivary flow rate, pH and buffering capacity in pregnant and non pregnant women–a comparative study. JMED research, 2014(2014), 1-7.
- Bronshtein, M., Gover, A., Beloosesky, R., Dabaja, H., Ginsberg, Y., Weiner, Z., & Khatib, N. (2018). Characteristics and Outcomes of Ptyalism Gravidarum. The Israel Medical Association Journal: IMAJ, 20(9), 573-575. https://europepmc.org/article/med/30221872
- Nesbeth, K. A. T., Samuels, L. A., Daley, C. N., Gossell-Williams, M., & Nesbeth, D. A. (2016). Ptyalism in pregnancy–a review of epidemiology and practices. European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology, 198, 47-49. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S030121151500490X
- Yilmaz, F., Carti Dorterler, O., Eren Halici, S., Kasap, B., & Demirbas, A. (2024). The effects of pregnancy on oral health, salivary ph and flow rate. BMC Oral Health, 24(1), 1286. https://link.springer.com/article/10.1186/s12903-024-05057-0
- The Bump. Dealing With Excessive Saliva in Pregnancy? Here’s Why. Retrieved from https://www.thebump.com/a/why-is-my-mouth-watering-all-the-time-now-that-im-pregnant
- Agrawal, A. T., Hande, A., Reche, A., Paul, P., & AGRAWAL, A. T. (2022). Appraisal of saliva and its sensory perception in reproductive transitions of women: a review. Cureus, 14(11). https://www.cureus.com/articles/119907-appraisal-of-saliva-and-its-sensory-perception-in-reproductive-transitions-of-women-a-review.pdf
- Keaulana, S., Antonio, M., Schoch, H., & Banna, J. (2019). A literature review of the role of mindfulness practices in nutrition for mothers and their children. American journal of lifestyle medicine, 13(6), 533-536. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/1559827619866815