Sekilas terdengar seperti batuk biasa, tapi batuk rejan bisa membawa dampak serius bagi kesehatan anak. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis, dan kerap disalahartikan sebagai flu ringan di tahap awal. Seiring waktu, gejalanya berkembang menjadi batuk yang sangat hebat, disertai suara napas bernada tinggi atau dikenal dengan istilah “whoop”. Pada beberapa kasus, anak bisa mengalami muntah setelah batuk, bahkan sampai kesulitan bernapas.
Mams, penting untuk mengenali perbedaan antara batuk biasa dan batuk rejan. Meski terlihat mirip di awal, batuk rejan bisa berlangsung lebih lama dan menimbulkan komplikasi serius, terutama pada bayi. Di artikel ini, Mams akan mendapatkan informasi lengkap seputar gejala khas batuk rejan, cara membedakannya, potensi bahayanya bagi si kecil, hingga langkah pencegahan yang direkomendasikan oleh pakar medis.
Batuk Rejan vs Batuk Biasa, Apa Bedanya?
Batuk biasa umumnya disebabkan oleh virus seperti rhinovirus, dan cenderung sembuh sendiri dalam waktu 7–14 hari. Sedangkan batuk rejan berasal dari infeksi bakteri Bordetella pertussis dan bisa berlangsung hingga 10 minggu atau lebih. Gejala awalnya memang serupa, pilek ringan, demam, dan batuk kering, tapi batuk rejan berkembang menjadi batuk hebat yang datang bertubi-tubi dan disertai suara napas khas.
Pada anak-anak, batuk rejan bisa memicu muntah, wajah membiru, dan kelelahan luar biasa. Bahkan, dalam beberapa kasus, anak bisa kesulitan bernapas setelah serangan batuk. Kondisi ini membuat batuk rejan dijuluki sebagai “batuk 100 hari” karena durasinya yang panjang. Oleh karena itu, mengenali perbedaan sejak awal sangat penting agar tidak keliru dalam penanganan.
Mams juga perlu waspada jika batuk anak tidak kunjung membaik setelah dua minggu, atau disertai muntah dan suara “whoop” saat menarik napas. Jika gejala ini muncul, segeralah periksakan ke dokter. Penanganan cepat dapat mencegah komplikasi serius, terutama pada bayi. Vaksinasi DTP adalah langkah perlindungan utama yang sangat direkomendasikan.
Seberapa Bahaya Batuk Rejan untuk Bayi dan Anak?
Batuk rejan merupakan salah satu infeksi saluran napas yang paling berbahaya bagi bayi, khususnya yang berusia di bawah 6 bulan. Sistem kekebalan tubuh yang belum matang serta belum lengkapnya dosis vaksin membuat bayi sangat rentan. Berdasarkan data CDC, sekitar separuh dari bayi yang terinfeksi perlu mendapatkan perawatan di rumah sakit karena risiko komplikasi seperti pneumonia, kejang, hingga apnea atau henti napas.
Sebagian besar kematian akibat batuk rejan terjadi pada bayi yang belum divaksin. Di sinilah pentingnya imunitas komunitas. Ketika orang-orang di sekitar bayi, seperti Mams, pasangan, pengasuh, dan keluarga lainnya telah divaksin, maka risiko penularan pun berkurang secara signifikan. Vaksinasi Tdap untuk orang dewasa, termasuk saat kehamilan, menjadi salah satu upaya perlindungan tidak langsung yang sangat disarankan.
Gejala awal pada bayi sering kali samar dan menyerupai flu biasa. Namun seiring waktu, batuk bisa bertambah berat hingga membuat bayi sulit menyusu, muntah, bahkan berhenti bernapas sejenak. Jika Mams melihat bayi tampak lelah terus-menerus, wajah membiru saat batuk, atau napasnya terhenti beberapa detik, jangan tunda untuk membawa ke fasilitas kesehatan.
Apakah Batuk Rejan Bisa Sembuh Total?
Batuk rejan memang bisa sembuh total, apalagi jika ditangani sejak dini. Meski begitu, proses pemulihannya bisa memakan waktu cukup panjang. Gejala batuk parah bisa berlangsung hingga 6–10 minggu, meskipun infeksi bakterinya sudah terkendali. Hal ini terjadi karena saluran napas yang mengalami iritasi memerlukan waktu untuk pulih sepenuhnya.
Tanda-tanda perbaikan dapat terlihat dari berkurangnya frekuensi batuk, tidak lagi terdengar suara “whoop”, serta hilangnya muntah setelah batuk. Anak pun mulai tampak lebih nyaman dan aktif kembali. Namun, batuk sisa masih bisa bertahan hingga 2–3 bulan, dan ini adalah bagian normal dari proses pemulihan, bukan pertanda infeksi aktif.
Selama masa penyembuhan, perawatan rumahan sangat penting. Pastikan anak cukup istirahat, jauh dari asap rokok atau polusi, serta diberi makanan kecil secara bertahap untuk mencegah muntah. Menggunakan humidifier juga bisa membantu menjaga kelembapan udara dan meringankan iritasi saluran napas. Dengan dukungan yang tepat, anak bisa kembali sehat tanpa komplikasi lanjutan.
Cara Paling Efektif Mencegah Batuk Rejan
Langkah paling efektif dalam mencegah batuk rejan adalah memastikan anak mendapatkan vaksinasi DTP secara lengkap dan sesuai jadwal. Vaksin ini biasanya diberikan mulai usia 2 bulan, lalu dilanjutkan pada usia 3 dan 4 bulan, serta booster pada usia 18 bulan dan 5 tahun. Remaja juga perlu mendapatkan booster ulang saat usia 10–12 tahun untuk mempertahankan perlindungan.
Vaksinasi ibu hamil juga berperan penting dalam mencegah infeksi pada bayi. CDC merekomendasikan pemberian vaksin Tdap setiap kehamilan, terutama antara minggu ke-27 hingga 36. Dengan begitu, antibodi dari ibu akan diteruskan kepada janin, memberikan perlindungan sejak lahir sebelum bayi cukup usia untuk menerima vaksin langsung.
Sayangnya, masih banyak orang dewasa yang belum mendapat booster pertusis. Padahal, mereka bisa menjadi pembawa bakteri tanpa gejala, lalu menularkannya kepada bayi. Di sinilah pentingnya herd immunity, semakin banyak yang divaksin, semakin kecil risiko penyebaran. Mams bisa berkonsultasi dengan tenaga medis untuk memastikan seluruh keluarga telah mendapatkan perlindungan yang diperlukan.
A Word From Navila
Batuk rejan bukan sekadar batuk biasa. Gejalanya memang menyerupai flu ringan, tetapi dampaknya bisa sangat berbahaya bagi bayi yang sistem imunnya belum matang. Tanpa deteksi dini dan imunisasi yang lengkap, risiko komplikasi serius bahkan kematian bisa meningkat. Karena itu, vaksinasi bukan hanya tanggung jawab pribadi, tapi juga bentuk perlindungan bagi si Kecil dan komunitas.
Mams, jangan tunggu sampai batuk menjadi sesak napas yang mengkhawatirkan. Pastikan imunisasi anak lengkap dan periksa juga status vaksinasi keluarga yang tinggal serumah. Khusus untuk anak yang tidak dapat menerima vaksin pertusis karena kondisi medis, vaksin DT bisa menjadi alternatif perlindungan. Yuk, baca artikel berikut untuk tahu lebih lanjut: Apa Itu Imunisasi DT? Imunisasi Wajib untuk Balita.
References
- CDC. Chapter 16: Pertussis. Retrieved from https://www.cdc.gov/pinkbook/hcp/table-of-contents/chapter-16-pertussis.html
- OC Health. 3/4/2016 1 Whoop, there it still is: An update on pertussis. Retrieved from https://www.ochealthinfo.com/sites/hca/files/import/data/files/51689.pdf
- WHO. Pertussis. Retrieved from https://www.who.int/health-topics/pertussis
- CDC. Symptoms of Whooping Cough. Retrieved from https://www.cdc.gov/pertussis/signs-symptoms/index.html
- The Royal Children’s Hospital Melbourne. Whooping cough (pertussis). Retrieved from https://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/whooping_cough_pertussis/
- CDC. Pertussis Vaccination Recommendations. Retrieved from https://www.cdc.gov/pertussis/hcp/vaccine-recommendations/index.html
3 comments