Saat membicarakan perkembangan anak, peran Ibu sering kali jadi fokus utama. Padahal, sosok Ayah juga punya pengaruh besar dalam membentuk karakter si kecil. Anak yang tumbuh dekat dengan Ayah cenderung lebih percaya diri dan tangguh. Kehadiran Ayah bukan pelengkap, tapi fondasi penting bagi kecerdasan sosial dan emosional anak.
Keterlibatan Ayah terbukti membantu anak mengelola emosi dan membangun hubungan sosial yang sehat. Ayah yang aktif biasanya mendorong eksplorasi, diskusi terbuka, dan tantangan. Gaya ini membantu perkembangan otak anak dan kemampuan berpikir kritis. Artikel ini akan mengulas peran Ayah lengkap dengan riset dan cara praktik di rumah.
Peran Ayah Meningkatkan Regulasi Emosi Anak Sejak Dini
Regulasi emosi adalah kemampuan anak mengelola perasaannya dengan cara sehat. Ini penting untuk hubungan sosial, prestasi akademik, dan kesejahteraan mental. Studi dari American Psychological Association (APA) menunjukkan bahwa anak yang dekat dengan Ayah lebih tenang dan mampu mengontrol impuls. Efek positif ini terlihat bahkan setelah mempertimbangkan faktor ekonomi dan pendidikan Ibu.
Ayah yang merespons emosi anak secara hangat dan konsisten memberi dampak besar. Anak jadi lebih mudah mengenali perasaannya dan belajar cara menenangkan diri. Contoh nyata dari Ayah juga membantu anak menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Studi dari British Journal of Developmental Psychology menyebut bahwa figur Ayah yang suportif membuat otak anak lebih tahan terhadap stres.
Dampak keterlibatan Ayah ini makin terasa pada anak laki-laki. Secara alami, mereka cenderung lambat dalam mengelola emosi dibanding anak perempuan. Kehadiran Ayah memberi model nyata tentang cara mengekspresikan dan mengatur emosi. Studi Harvard membuktikan, anak laki-laki yang dekat dengan Ayah lebih kecil risikonya mengalami gangguan perilaku saat remaja.
Pengasuhan Ayah Dorong Kemandirian dan Toleransi Frustrasi
Gaya pengasuhan Ayah biasanya lebih menantang dan mendorong kemandirian. Ayah cenderung memberi anak ruang untuk mencoba, gagal, lalu belajar. Pendekatan ini dikenal sebagai challenge-based parenting dan terbukti bangun rasa percaya diri. Anak belajar bahwa kegagalan adalah bagian dari proses, bukan sesuatu yang harus dihindari.
Studi Research On Child and Adolescent Psychopathology menunjukkan bahwa keterlibatan Ayah dalam permainan dan diskusi logis meningkatkan toleransi frustrasi anak. Anak jadi lebih tahan banting dan tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Mereka belajar mengelola kecewa dan bangkit dengan solusi. Ini jadi pondasi penting untuk membentuk daya juang dan grit sejak dini.
University of Cambridge juga menyebut bahwa gaya Ayah membantu anak berpikir kritis. Anak yang sering diajak berpikir dan berdiskusi akan lebih fleksibel dalam menyelesaikan masalah. Mereka terbiasa melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk belajar. Dengan begitu, Ayah bukan hanya pelindung, tapi juga pelatih mental bagi anak.
Interaksi Kognitif dengan Ayah Perkuat Fungsi Otak Anak
Fungsi eksekutif adalah kemampuan otak mengatur fokus, mengendalikan emosi, dan merencanakan tindakan. Ini berkembang pesat saat anak masih kecil dan sangat dipengaruhi interaksi dengan orang tua. Paps yang suka bermain strategi, berdiskusi, atau membaca bersama ikut menguatkan area otak penting anak. Prefrontal cortex (pusat kendali otak) jadi lebih aktif, membantu anak berpikir mandiri.
Penelitian dari Child Development membuktikan bahwa aktivitas kognitif bersama Ayah tingkatkan IQ, literasi, dan numerasi anak. Bahkan jika interaksi tidak setiap hari, kualitas kebersamaan tetap berdampak. Anak yang diajak berpikir sejak kecil cenderung lebih tekun dan tangguh. Kuncinya bukan durasi, tapi kedalaman interaksi yang bermakna.
Pendekatan kognitif Ayah biasanya lebih menantang dan eksploratif dibanding Ibu. Paps sering memberi pertanyaan terbuka dan mengajak anak ambil risiko dalam berpikir. Ini mendorong fleksibilitas otak dan rasa percaya diri saat menyampaikan ide. Dalam suasana yang aman secara emosional, anak lebih siap tumbuh dan belajar.
Ayah sebagai Role Model Sosial dan Emosional Anak
Anak banyak belajar dari apa yang dia lihat, bukan sekadar dari apa yang diajarkan. Saat Ayah menunjukkan empati, menyelesaikan konflik dengan tenang, dan bersikap adil, anak merekam semua itu. Nilai-nilai ini jadi acuan anak dalam bersosialisasi dan membangun hubungan dengan orang lain. APA mencatat bahwa keterlibatan Ayah berkorelasi dengan empati dan keterampilan sosial anak.
Ayah juga membantu membentuk persepsi anak terhadap dunia. Ketika Ayah hadir secara konsisten dan positif, anak merasa lebih aman dan percaya diri menjelajah lingkungan. Studi Horyzonty Wychowania juga menyebut bahwa anak yang tumbuh bersama Ayah suportif lebih prososial dan memiliki moralitas kuat. Ini menunjukkan bahwa figur Ayah tak hanya mengajarkan, tapi membentuk.
Ayah juga berperan dalam membentuk konsep diri anak. Anak laki-laki belajar tentang tanggung jawab dan maskulinitas dari Ayah, sementara anak perempuan belajar cara menjalin relasi yang sehat. Anak yang dekat dengan Ayah juga punya harga diri tinggi. Mereka juga cenderung lebih stabil secara emosional dan lebih sedikit bermasalah secara perilaku.
A Word From Navila
Paps, kehadiran Ayah punya dampak yang luar biasa dalam tumbuh kembang si kecil. Bukan hanya tentang disiplin, tapi juga soal bagaimana anak mengenal diri dan menghadapi dunia. Dari belajar mengatur emosi, membangun percaya diri, hingga menyelesaikan masalah, semua berawal dari interaksi yang bermakna dengan Paps.
Yang paling penting bukan seberapa banyak waktu yang dihabiskan, tapi seberapa dalam koneksi yang terjalin. Menjadi role model yang konsisten memberi anak fondasi kuat untuk tumbuh sehat secara sosial dan emosional. Ayah yang hadir dan terlibat bisa mengubah arah hidup anak selamanya. Lalu, bagaimana peran Ibu dan Anak melengkapi dinamika keluarga yang sehat? Pelajari selengkapnya di: Tanggung Jawab serta Peran Ayah, Ibu dan Anak dalam Keluarga.
References
- APA. The Changing Role of the Modern Day Father. Retrieved from https://www.apa.org/pi/families/resources/changing-father
- Lucassen, N., Kok, R., Bakermans‐Kranenburg, M. J., Van Ijzendoorn, M. H., Jaddoe, V. W., Hofman, A., … & Tiemeier, H. (2015). Executive functions in early childhood: The role of maternal and paternal parenting practices. British Journal of Developmental Psychology, 33(4), 489-505.
- Cambridge. Father contribution to human resilience. Retrieved from https://www.cambridge.org/core/journals/development-and-psychopathology/article/father-contribution-to-human-resilience/1342C24F368FB2953C342AFF875E04A6
- Feldman, J. S., Wilson, M. N., & Shaw, D. S. (2024). Paternal activation as a protective factor against problem behaviors in early childhood. Research on child and adolescent psychopathology, 52(8), 1-15.
- Rodrigues, M., Sokolovic, N., Madigan, S., Luo, Y., Silva, V., Misra, S., & Jenkins, J. (2021). Paternal sensitivity and children’s cognitive and socioemotional outcomes: A meta‐analytic review. Child development, 92(2), 554-577.
- Cabrera, N. J., Jeong Moon, U., Fagan, J., West, J., & Aldoney, D. (2020). Cognitive stimulation at home and in child care and children’s preacademic skills in two‐parent families. Child Development, 91(5), 1709-1717.
- Dacka, M. (2025). The Role of the Father in the Formation of a Child’s Moral Intelligence. Horyzonty Wychowania, 24(69), 43-52.
1 comment
Riyan Wulansari
Terimakasih banyak info yang sangat bermanfaat sekali 💜